Pemagaran Mal Milik Pakuwon Jadi Perbincangan, Manajemen Beberkan Tujuan dan Pertimbangan di Baliknya

Isu, Keamanan, Mal, manajemen, Pagar, Pakuwon
Rate this post

Belakangan ini warganet ramai memperbincangkan tampilan baru sejumlah mal milik Pakuwon Group yang kini dipasangi pagar di area depannya. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Mal Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta Selatan. Banyak yang bertanya-tanya, apakah pemasangan pagar tersebut berkaitan dengan faktor keamanan atau ada alasan lain?

Ternyata, pihak Pakuwon Group akhirnya angkat bicara dan menjelaskan alasan sebenarnya di balik pemasangan pagar tersebut. Menurut manajemen, langkah ini bukan muncul karena kekhawatiran akan situasi tertentu, melainkan sudah menjadi bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pengunjung sekaligus penataan kawasan mal.

Read More

Kokas Kini Punya Pagar Lebih Tinggi

Jika melintas di pintu masuk utama kendaraan dari Jalan Raya Casablanca, pengunjung kini bisa melihat pagar berwarna abu-abu dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Namun, pagar tersebut tidak dipasang menutup seluruh sisi depan mal.

Beberapa area tetap dibuat terbuka agar akses masuk dan keluar pengunjung tetap nyaman. Bahkan di sejumlah titik, Pakuwon memilih menggunakan pagar kaca dengan desain modern dan tinggi yang lebih rendah sehingga tetap terlihat estetik tanpa menghilangkan fungsi pengamanan.

Fenomena serupa sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah pusat perbelanjaan milik Pakuwon di Surabaya juga telah lebih dulu menerapkan konsep pemagaran, seperti Pakuwon Mall Surabaya, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, hingga Pakuwon City Mall. Seluruh mal tersebut berada di bawah pengelolaan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Pakuwon Jelaskan Alasan Sebenarnya

Direktur Marketing Pakuwon Group sekaligus Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Sutandi Purnomosidi, mengatakan bahwa ide pemasangan pagar berawal dari pertimbangan keselamatan pengunjung.

“Sebenarnya gini, awalnya kita berpikir itu (mal dipagari) karena apa? Itu kan Pakuwon Mall itu terbukanya kan lebar sekali. Satu setengah kilometer itu buka.”

Menurutnya, banyak pusat perbelanjaan Pakuwon memiliki akses yang langsung berbatasan dengan jalan raya yang ramai dilalui kendaraan. Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko apabila pengunjung bebas menyeberang atau masuk dari sembarang titik.

“Nah, sekarang kalau semua orang nyebrang, masuk sembarangan, ini kan bahaya buat mereka sendiri, penyebrang. Awalnya (ide mal dipagari) di sana.”

Dengan adanya pagar, arus keluar-masuk kendaraan maupun pejalan kaki diharapkan menjadi lebih tertata. Pengunjung juga diarahkan menggunakan jalur resmi yang memang sudah disiapkan sehingga risiko kecelakaan dapat ditekan.

Bantah Isu Antisipasi Kondisi Tertentu

Belakangan muncul berbagai spekulasi di media sosial yang mengaitkan pemasangan pagar dengan upaya mengantisipasi situasi tertentu di masa depan. Namun, Sutandi menegaskan anggapan tersebut tidak benar.

“Terus sebetulnya ada beberapa hal yang saya mau highlight. Satu, yang jelas Pakuwon itu bukan peramal. Kita nggak tau mau terjadi apa. Ekonomi baik-baik saja. Baik-baik saja. Kita mau takut apa? Kita memang hidup di Indonesia.”

Pernyataan itu sekaligus menepis dugaan bahwa pemagaran dilakukan karena adanya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi maupun faktor keamanan yang belum terjadi.

Pagar Sudah Dipasang Sejak Bertahun-Tahun

Sutandi juga menjelaskan bahwa konsep pemagaran sebenarnya sudah diterapkan sejak lama di berbagai mal milik Pakuwon. Bahkan beberapa pagar yang kini terlihat baru hanyalah hasil penggantian dari pagar lama yang sudah mengalami kerusakan akibat usia.

“Yang kedua ya, Mal Pakuwon yang dipagar itu sudah banyak. Contohnya Royal Plaza pagarnya itu dari 2006, sudah 20 tahun Royal Plaza berdiri.”

Ia menambahkan bahwa pagar lama berbahan besi hollow yang telah terpasang selama puluhan tahun mulai mengalami korosi sehingga memang perlu diperbarui.

“Nah pagarnya itu cuma pakai besi holo (besi hollow) hitam. Itu kalau 20 tahun karena hujan karena panas, karat dan kropos, (sudah) 20 tahun bisa nih (kita ganti pagarnya).”

Artinya, pemasangan pagar baru juga merupakan bagian dari proses perawatan dan pembaruan fasilitas agar tetap aman digunakan dalam jangka panjang.

Blok M Plaza Jadi Inspirasi

Menariknya, konsep pagar yang kini diterapkan di sejumlah mal Pakuwon ternyata bukan ide yang benar-benar baru. Sutandi mengungkapkan bahwa Blok M Plaza di Jakarta sudah lebih dulu menggunakan konsep pagar keliling.

“Nah terus sebelumnya kita juga blok M Plaza di Jakarta, itu sudah pageran keliling. Justru prototipnya pager Pakuwon Mall itu nyontoh Blok M Plaza. Nah ini yang menjadi identitas kita semua sekarang.”

Dengan kata lain, desain pagar yang kini terlihat di berbagai mal Pakuwon merupakan bagian dari konsep identitas kawasan yang telah diterapkan secara bertahap.

Tak Selalu Besi, Ada Juga Pagar Kaca

Selain pagar besi, Pakuwon juga menggunakan material kaca di beberapa area pusat perbelanjaannya. Pemilihan material ini dilakukan agar aspek keamanan tetap berjalan tanpa mengurangi nilai estetika bangunan.

“Contoh lagi TP (Tunjangan Plaza), TP4, TP5 itu sudah ada pagar. Pagar kaca. Lah bahaya loh, rawan pecah itu. Ada keragaman kaca sekarang. PCM ini (jenis material kaca Phase Change Material).”

Penggunaan material yang berbeda disesuaikan dengan desain masing-masing mal, sehingga fungsi keamanan tetap berjalan seiring dengan tampilan bangunan yang modern dan nyaman dipandang.

Secara keseluruhan, Pakuwon menegaskan bahwa pemasangan pagar bukanlah respons terhadap isu tertentu, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam meningkatkan keselamatan pengunjung, mengatur akses keluar-masuk kawasan mal, memperbarui fasilitas lama, serta menjaga tampilan pusat perbelanjaan agar tetap rapi dan modern.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *