Isu soal layanan kesehatan jiwa yang disebut-sebut bakal tidak lagi ditanggung BPJS Kesehatan sempat bikin masyarakat bertanya-tanya. Apalagi kabar tersebut beredar di media sosial dan dikaitkan dengan perubahan kebijakan mulai 1 September 2026.
Tapi tenang, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) justru memberikan penjelasan yang berbeda. Pemerintah menegaskan bahwa layanan kesehatan jiwa tetap menjadi bagian dari pelayanan yang bisa dijamin BPJS Kesehatan. Bahkan, cakupannya sedang didorong supaya bisa semakin luas.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan psikolog klinis maupun psikiater pada dasarnya tetap dapat masuk dalam skema jaminan BPJS Kesehatan, selama pelayanan tersebut memenuhi ketentuan pengodean Indonesian Diagnosis Related Groups atau IDRG.
Jadi, kabar soal penurunan atau penghentian jaminan untuk layanan psikolog bukanlah arah kebijakan yang sedang didorong pemerintah. Sebaliknya, Kemenkes ingin memastikan masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan mental tetap mempunyai akses terhadap layanan medis yang sesuai.
Bukan Dipangkas, Malah Mau Diperluas
Yang menarik, pembahasan Kemenkes bukan cuma soal psikolog dan psikiater. Pemerintah juga sedang mendorong agar jaminan kesehatan bisa menjangkau fasilitas daycare untuk lansia.
Kenapa daycare lansia ikut dibahas?
Kondisi lansia tidak cuma berkaitan dengan kesehatan fisik. Seiring bertambahnya usia, seseorang bisa mengalami penurunan fungsi tubuh, gangguan degeneratif, sampai perubahan kondisi psikologis. Karena itu, kebutuhan terhadap tempat perawatan dan pemantauan yang aman juga makin penting.
Konsep daycare lansia bisa menjadi salah satu pilihan bagi keluarga yang tetap harus bekerja atau punya aktivitas padat sepanjang hari. Orang tua tetap bisa mendapatkan pendampingan dan pemantauan yang sesuai tanpa harus selalu berada sendirian di rumah.
Kalau nantinya skema pembiayaan layanan seperti ini benar-benar diperluas melalui BPJS, tentu bisa menjadi kabar penting buat banyak keluarga yang sedang menghadapi kebutuhan perawatan lansia.
Kesehatan Mental Jangan Dianggap Sepele
Kemenkes juga mengingatkan bahwa persoalan kesehatan jiwa bukan sesuatu yang seharusnya ditunggu sampai kondisinya menjadi berat.
Perubahan pada diri seseorang memang kadang terlihat sederhana. Misalnya pola tidur berubah, emosi menjadi lebih mudah meledak, sulit berkonsentrasi, pola bicara berubah, atau aktivitas sehari-hari tidak lagi seperti biasanya.
Namun, kalau perubahan tersebut berlangsung secara konsisten selama sekitar dua minggu atau lebih, kondisi tersebut sebaiknya mulai diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Artinya, jangan langsung memberikan label atau mendiagnosis diri sendiri. Yang lebih penting adalah menyadari adanya perubahan dan mencari bantuan profesional ketika memang dibutuhkan.
Skrining Kesehatan Jiwa Makin Didorong
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Kemenkes juga sudah memasukkan aspek kesehatan jiwa dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan fitur skrining mandiri yang tersedia melalui aplikasi SATUSEH. Fitur tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengenali kondisi kesehatan seseorang, meskipun hasil skrining tetap bukan pengganti diagnosis dari psikolog atau dokter.
Dengan akses yang semakin mudah, harapannya masyarakat tidak lagi merasa bahwa membicarakan kesehatan mental adalah sesuatu yang memalukan.
Kalau Ada Orang Terdekat Sedang Tertekan, Harus Ngapain?
Kemenkes juga mendorong masyarakat agar tidak cuek ketika melihat orang terdekat mengalami perubahan kondisi mental.
Ada empat langkah sederhana yang bisa dilakukan sebagai bentuk dukungan awal, yaitu bertanya, mendengarkan, menemani, dan menghubungkan.
Pertama, coba tanyakan kondisinya dengan cara yang tidak menghakimi. Setelah itu, dengarkan ceritanya tanpa buru-buru menyalahkan atau menganggap masalahnya sepele.
Kalau memungkinkan, temani orang tersebut dan bantu menghubungkannya dengan keluarga, psikolog, psikiater, dokter, atau layanan kesehatan yang sesuai.
Untuk kondisi yang membutuhkan bantuan segera, Kemenkes juga menyediakan layanan Healing119 yang dapat diakses melalui 119 ekstensi 8.
Jadi, kabar mengenai penghentian penjaminan layanan psikolog oleh BPJS Kesehatan perlu dilihat secara hati-hati dan tidak langsung dipercaya hanya karena ramai di media sosial.
Arah yang disampaikan Kemenkes justru menunjukkan adanya upaya untuk mempertahankan sekaligus memperluas akses layanan kesehatan jiwa. Mulai dari psikolog klinis dan psikiater sampai wacana perluasan cakupan untuk daycare lansia.
Buat masyarakat, pesan terpentingnya adalah jangan menunda mencari bantuan ketika kondisi mental mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan semakin cepat mendapatkan pertolongan yang tepat, semakin besar peluang seseorang memperoleh penanganan yang sesuai.








