Bacaan Injil Katolik Hari Ini Senin, 14 September 2026 Lengkap Renungan Harian Injil, Pesta Pemuliaan Salib Suci

bacaan, ekaristi, Harian, homili, injil, Katolik, misa, Perayaan, renungan
Rate this post

Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.

Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.

Read More

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Senin, 14 September 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Pesta Pemuliaan Salib Suci, dengan warna liturgi Merah.

Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9

Setiap orang yang dipagut ular,jika memandang ular tembaga,ia akan tetap hidup.

Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor,mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?

Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini! Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.”

Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup.”Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38

Ref: Jangan  melupakan perbuatan-perbuatan Allah.

Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku,sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan amsal, aku mau menuturkan hikmah dari zaman purbakala.

Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia;mereka berbalik dan mendambakan Allah;mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka,dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.

Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya,dan dengan lidah mereka membohongi Allah.Hati mereka tidak berpaut pada-Nya,dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.

Akan tetapi Allah itu penyayang!Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka;banyak kali Ia menahan amarah-Nya,dan tidak membangkitkan keberangan-Nya.

Bacaan Kedua: Filipi 2:6-11

Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia.

Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit,

dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya.

Ya Kristus, kami menyembah dan memuji Dikau, sebab dengan salib-Mu, Engkau telah menebus dunia.

Bacaan Injil: Yohanes 3:13-17

Anak manusia harus ditinggikan.

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Senin, 14 September 2026

Saudara-saudari terkasih, pada Pesta Pemuliaan Salib Suci ini, Sabda Tuhan membawa kita kepada sebuah kenyataan iman yang sangat dalam: salib bukan sekadar tanda penderitaan, melainkan tanda kasih Allah yang memilih untuk hadir dan menyelamatkan manusia. Yesus berkata, “Anak Manusia harus ditinggikan.” Kalimat ini menunjukkan bahwa keselamatan justru dinyatakan melalui jalan yang secara manusiawi tampak penuh kelemahan.

Dalam kehidupan kita, salib sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Ada persoalan keluarga yang belum selesai, kekecewaan terhadap seseorang, kegagalan yang membuat kita malu, tanggung jawab yang terasa berat, atau perjuangan mempertahankan sesuatu yang benar ketika orang lain memilih jalan yang lebih mudah. Tidak semua penderitaan otomatis menjadi sesuatu yang baik. Namun ketika kita menjalaninya bersama Kristus, penderitaan itu dapat menjadi ruang untuk belajar percaya, bertumbuh, mengampuni, dan tetap mengasihi.

Bacaan pertama memperlihatkan bangsa Israel yang mulai kehilangan kesabaran dalam perjalanan. Mereka mengeluh dan mempertanyakan Tuhan. Namun ketika mereka menyadari kesalahannya, Tuhan memberikan jalan untuk mengalami keselamatan. Mereka diminta memandang ular tembaga yang ditinggikan. Dalam terang Injil, Yesus menghubungkan peristiwa itu dengan diri-Nya sendiri. Sebagaimana ular itu ditinggikan, demikian pula Anak Manusia akan ditinggikan supaya manusia yang percaya memperoleh hidup.

Menarik bahwa Yesus tidak mengatakan Allah mengutus-Nya untuk menghukum dunia. Justru sebaliknya, “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” Inilah inti Salib: kasih Allah lebih besar daripada dosa dan kegagalan manusia.

Bacaan Paulus semakin memperjelasnya. Kristus tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, tetapi merendahkan diri dan taat sampai wafat di kayu salib. Artinya, kebesaran di hadapan Allah bukan tentang siapa yang paling berkuasa, paling terkenal, atau paling dihormati. Kebesaran sejati terlihat ketika seseorang mampu merendahkan hati, melayani, bertanggung jawab, dan tetap memilih kasih meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.

Maka, memuliakan Salib Suci bukan berarti mencari penderitaan. Kita dipanggil untuk memandang salib dengan iman dan belajar dari Kristus ketika menghadapi penderitaan yang memang menjadi bagian dari perjalanan hidup. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jangan membiarkan luka mengubah hati menjadi penuh kebencian. Jangan pula merasa bahwa perjuangan kita tidak berarti. Di dalam Kristus, jalan yang berat sekalipun dapat menjadi jalan menuju kedewasaan dan keselamatan.

Saudara-saudari, mungkin hari ini kita sedang membawa salib yang tidak diketahui banyak orang. Pandanglah kepada Kristus. Bukan karena masalah akan selalu langsung hilang, tetapi karena kita percaya bahwa kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Salib mengajarkan bahwa kasih yang sejati sanggup bertahan, mengampuni, dan menyerahkan hidup kepada kehendak Bapa. Di sanalah harapan kita menemukan kekuatannya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah kami memandang Salib-Mu dengan iman dan pengharapan. Kuatkan kami menghadapi tanggung jawab, luka, dan kesulitan tanpa kehilangan kasih. Jauhkan kami dari dendam dan keputusasaan. Bantulah kami merendahkan hati, mengampuni dengan tulus, menolong sesama, serta setia memilih kebenaran sesuai kehendak-Mu. Amin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *