Lagi rame nih obrolan soal rupiah yang sempat tembus level psikologis Rp 17.000 per dollar AS. Banyak yang panik, banyak juga yang bingung: ini tanda bahaya atau cuma fase lewat aja?
Nah, menurut Bank Indonesia (BI), kondisi rupiah sekarang tuh sebenernya lagi undervalued alias “terlalu murah” dibanding nilai aslinya. Jadi bukan karena ekonomi kita jelek, tapi lebih ke efek situasi global yang lagi panas.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, bahkan bilang tegas:
“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,”
Kenapa Rupiah Bisa Melemah?
Jadi gini, bro-sis. Dalam periode pertengahan Maret sampai pertengahan April 2026, rupiah turun sekitar 0,88 persen—dari Rp 16.975 ke Rp 17.125 per dollar AS. Kalau dihitung dari awal tahun, total pelemahannya udah sekitar 3,06 persen.
Penyebab utamanya? Bukan cuma dari dalam negeri. Lebih ke faktor luar, kayak:
- Konflik geopolitik (terutama ketegangan AS–Iran)
- Investor global yang lagi “cari aman”
- Dana asing cabut dari pasar saham Indonesia (capital outflow)
Total dana yang keluar bahkan tembus sekitar Rp 25 triliun. Lumayan banget kan.
Tapi Kok Dibilang “Undervalued”?
Nah ini poin pentingnya. BI nggak cuma lihat angka kurs doang, tapi juga kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Menurut mereka, fundamental kita masih oke banget:
- Pertumbuhan ekonomi diprediksi di kisaran 4,9–5,7 persen
- Inflasi masih terjaga (sekitar 3,48 persen di Maret)
- Imbal hasil investasi di Indonesia masih menarik
Makanya Perry juga bilang:
“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik dan juga komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,”
Artinya, pelemahan sekarang ini lebih ke sentimen global daripada kondisi ekonomi kita yang sebenarnya.
BI Nggak Tinggal Diam
BI juga nggak cuma ngomong doang, tapi langsung gerak:
- Intervensi di pasar valas (spot, NDF, DNDF)
- Jaga suku bunga BI Rate di 4,75 persen
- Naikin daya tarik instrumen kayak SRBI
- Pakai cadangan devisa buat stabilisasi
Cadangan devisa kita memang turun jadi sekitar 148,2 miliar dollar AS, tapi masih aman banget—cukup buat biayai sekitar 6 bulan impor.
Selain itu, pemerintah juga nyuntik likuiditas Rp 100 triliun ke perbankan biar pasar tetap stabil.
Jadi… Bisa Nggak Rupiah Balik Kuat?
Jawabannya: bisa, tapi nggak instan.
Ada dua faktor penentu utama:
- Kondisi global (kalau konflik mereda, peluang menguat makin besar)
- Kebijakan dalam negeri (BI dan pemerintah harus tetap solid)
Masalahnya, dunia lagi nggak stabil. Jadi walaupun rupiah “murah”, dia tetap bisa tertekan.
Di sinilah letak “paradoks”-nya:
- Secara teori: rupiah harusnya kuat
- Secara realita: masih ke-tekan faktor luar
Rupiah lagi turun bukan berarti ekonomi Indonesia lagi ambruk. Justru menurut BI, nilainya sekarang lagi “diskon”.
Tapi ya itu tadi—selama dunia masih gonjang-ganjing, rupiah juga bakal ikut goyang.
Jadi, bukan soal kuat atau lemah doang, tapi soal timing dan kondisi global.
Kalau situasi dunia mulai adem? Nah, di situ peluang rupiah buat comeback makin kebuka 🚀








