Kurs Dolar AS Melonjak, Harga Pangan, Elektronik, hingga Tiket Pesawat Berpotensi Ikut Naik

AS, Dolar, harga, Harian, Kebutuhan, Kenaikan, Risiko, Rp17.500, Rupiah
Rate this post

Situasi ekonomi lagi bikin banyak warga Indonesia tarik napas panjang. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus melemah sampai menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar. Buat sebagian orang mungkin ini cuma angka yang lewat di berita ekonomi, tapi kenyataannya efeknya bisa langsung terasa ke kehidupan sehari-hari.

Mulai dari belanja kebutuhan rumah, harga makanan, ongkos transportasi, sampai gadget incaran bisa pelan-pelan ikut naik. Banyak orang sekarang mulai sadar kalau kurs dolar ternyata punya pengaruh besar ke isi dompet.

Read More

Kenapa Dolar Naik Bisa Bikin Harga Ikut Mahal?

Sederhananya begini: Indonesia masih banyak mengimpor barang dan bahan baku dari luar negeri. Nah, ketika dolar makin mahal, biaya membeli barang impor otomatis ikut naik.

Ekonom dari Center of Economics and Law Studies, Nailul Huda, menjelaskan kalau kondisi ini bisa memicu yang disebut sebagai imported inflation atau inflasi impor.

Artinya, kenaikan kurs dolar bikin biaya produksi dan distribusi barang jadi lebih mahal. Ujungnya? Harga barang di pasar ikut naik sedikit demi sedikit.

“Kalau rupiah terus melemah, tekanan harga bakal terasa di banyak sektor karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku dan barang konsumsi,” jelas Huda.

Efeknya nggak cuma dirasakan perusahaan besar, tapi juga pedagang kecil sampai masyarakat biasa.

Industri Plastik Mulai Kena Imbas

Salah satu sektor yang mulai terasa tekanannya adalah industri plastik. Banyak bahan baku plastik masih bergantung dari impor. Ketika dolar melonjak, biaya produksi ikut naik.

Masalahnya, plastik dipakai hampir di semua produk sehari-hari. Mulai dari kemasan makanan, botol minuman, sampai kebutuhan rumah tangga.

Karena itu, kenaikan harga bahan baku plastik bisa bikin harga barang lain ikut terkerek. Salah satu contoh yang mulai diperhatikan adalah minyak goreng kemasan yang perlahan mengalami kenaikan.

Efek berantainya bikin masyarakat dari berbagai lapisan ikut terkena dampak.

“Dampaknya bisa menyebar luas, mulai dari pelaku usaha kecil sampai industri besar,” tambah Huda.

Bahan Pangan Sampai Obat Bisa Ikut Naik

Ekonom dari Center of Reform on Economics, “Yusuf Rendy Manilet”, juga menjelaskan kalau Indonesia masih rutin mengimpor berbagai kebutuhan penting.

Beberapa di antaranya:

  • Gandum
  • Kedelai
  • Bawang putih
  • Susu
  • Bahan baku obat
  • Komponen industri

Karena transaksi impor memakai dolar AS, biaya masuk barang jadi lebih mahal ketika rupiah melemah.

Akibatnya, masyarakat bisa mulai merasakan kenaikan harga pada makanan, obat-obatan, sampai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kelas Menengah Mulai Ngerem Pengeluaran

Kalau biasanya banyak orang masih santai checkout barang lucu saat tanggal kembar atau healing tipis-tipis tiap akhir pekan, sekarang situasinya mulai berubah.

Kelas menengah jadi kelompok yang cukup terasa tekanannya karena banyak kebutuhan mereka berkaitan langsung dengan produk impor atau pembayaran berbasis dolar.

Beberapa pengeluaran yang berpotensi makin mahal antara lain:

  • HP dan gadget
  • Laptop dan elektronik
  • Kosmetik impor
  • Langganan aplikasi digital
  • Biaya pendidikan luar negeri
  • Tiket traveling
  • Game dan layanan digital internasional

Menurut Rendy, masyarakat kemungkinan masih tetap belanja, tapi ruang geraknya makin sempit.

“Orang mungkin masih bisa membeli kebutuhan mereka, tetapi daya beli terasa menurun karena pengeluaran makin besar,” jelasnya.

Banyak orang akhirnya merasa gaji bulanan sekarang nggak terasa sejauh dulu.

Tiket Pesawat Bisa Makin Bikin Nangis

Satu lagi yang mulai jadi perhatian adalah harga tiket pesawat domestik.

Industri penerbangan punya banyak biaya operasional berbasis dolar AS. Mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai biaya perawatan mesin.

Ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis ikut membengkak.

Kalau kondisi ini berlangsung lama, bukan nggak mungkin harga tiket penerbangan dalam negeri bakal makin mahal.

Banyak netizen bahkan mulai bercanda kalau harga liburan lokal lama-lama bisa terasa setara pergi ke luar negeri.

Ada yang Justru Ketiban Cuan?

Walaupun mayoritas masyarakat terkena tekanan, ada juga beberapa pihak yang justru bisa mendapatkan keuntungan dari naiknya dolar.

Salah satunya pekerja migran Indonesia yang menerima gaji dalam mata uang asing. Saat ditukar ke rupiah, nilai uang yang diterima jadi lebih besar.

Selain itu, pelaku ekspor komoditas seperti:

  • Sawit
  • Kopi
  • Kakao
  • Hasil laut
  • Batu bara

juga relatif diuntungkan karena pendapatan mereka berbasis dolar sementara sebagian biaya operasional masih menggunakan rupiah.

Meski begitu, para ekonom menilai dampak negatif pelemahan rupiah tetap lebih besar bagi mayoritas masyarakat.

Warga Mulai Putar Otak

Di media sosial, banyak warga mulai mengeluhkan harga kebutuhan yang perlahan naik. Ada yang mulai mengurangi nongkrong, menahan beli gadget baru, sampai lebih selektif saat belanja bulanan.

Beberapa orang juga mulai mencari cara tambahan untuk menjaga keuangan tetap aman, seperti:

  • Mengurangi pengeluaran konsumtif
  • Menunda pembelian barang impor
  • Menambah tabungan darurat
  • Cari penghasilan tambahan
  • Beralih ke produk lokal

Ekonom mengingatkan bahwa kestabilan nilai tukar sangat penting karena efeknya bisa menjalar ke hampir semua sektor ekonomi.

Kalau rupiah terus melemah dalam waktu lama, tekanan terhadap harga barang dan daya beli masyarakat bisa makin terasa.

Untuk sekarang, banyak warga cuma bisa berharap kondisi ekonomi segera stabil supaya harga kebutuhan nggak makin bikin dompet megap-megap.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *