Model Distribusi Langsung BGN Dorong Ekonomi Daerah, Dapur MBG Kebagian Rp 500 Juta per Hari

Intan Prawira
Rate this post

Dapur MBG Auto Tajir? Bos BGN Bilang Tiap SPPG Kebagian Rp 500 Juta Sehari! Program Makan Bergizi Gratis (MBG) makin jadi bahan omongan. Kali ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, buka suara soal aliran dana jumbo yang langsung ngebut ke daerah. Bukan lewat pemda, tapi straight to the point ke dapur-dapur pelaksana!

Ngomong pas kasih keterangan tertulis Jumat (27/2/2026), Dadan ngejelasin kalau BGN sekarang pakai “jurus baru” buat ngatur anggaran. Dari total Rp 268 triliun anggaran BGN, sekitar Rp 240 triliun langsung muter di daerah. Gokil nggak tuh?

Menurut Dadan, dana itu langsung disalurin ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Jadi duitnya nggak mampir dulu ke pemerintah daerah.

“BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93% dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG. Jadi, kalau ada dana Rp 268 triliun, kurang lebih Rp 240 triliun uang beredar dari Sabang sampai Merauke, dan setiap hari setiap SPPG menerima Rp 500 juta. Saya kira ini adalah model baru, tidak ada satu rupiah pun uang yang disalurkan dari pusat ke daerah (pemda),”

Yes, kamu nggak salah baca. Setiap SPPG alias dapur MBG bisa nerima Rp 500 juta per hari. Kebayang nggak seberapa deras perputaran duitnya kalau dapurnya ada ribuan?

Duitnya Udah Muter Rp 36 Triliun!

Dadan juga spill kalau sampai hari ini, uang yang udah beredar tembus sekitar Rp 36 triliun. Dan itu katanya jadi mesin penggerak ekonomi yang nggak kaleng-kaleng karena muternya merata di seluruh Indonesia.

Skemanya simpel tapi berdampak: makin banyak SPPG di suatu daerah, makin tebal juga duit yang beredar di situ. Artinya, daerah dengan dapur MBG aktif bakal ngerasain efek ekonomi yang lebih berasa—dari belanja bahan makanan, bayar tenaga kerja, sampai distribusi logistik.

Petani Ikut Happy, Harga Bisa Naik 3 Kali Lipat

Yang paling kerasa ternyata sektor produksi lokal. Lewat program MBG, hasil bumi dan produk lokal dijamin penyerapannya sama negara. Jadi petani nggak perlu was-was barangnya nggak laku.

Dadan bilang ini momen yang belum pernah kejadian sebelumnya.

“Belum pernah terjadi dalam era mana pun, produksi lokal dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang. Tidak heran jika ada petani wortel di Nusa Tenggara Timur yang senang karena harga wortelnya bisa naik hingga tiga kali lipat,”

Kebayang kan, dari yang tadinya harga biasa aja, sekarang bisa naik sampai 3x lipat karena permintaan stabil dan pasti.

NTP Naik ke 125, Petani Punya Ruang Buat Naik Level

Efek lanjutannya kelihatan di Nilai Tukar Petani (NTP). Rata-rata NTP sekarang ada di angka 125, naik dari sebelumnya yang cuma sekitar 102.

Kalau NTP mentok di 100–102, itu artinya hasil petani cuma cukup buat nutup kebutuhan hidup. Nggak ada ruang buat nabung, apalagi investasi. Tapi di angka 125? Ada “kelebihan tenaga” 25 poin buat ningkatin kesejahteraan keluarga.

Bahkan Dadan optimistis angka itu bisa naik lagi.

“Saya yakin dengan program MBG ini, Nilai Tukar Petani akan bisa naik hingga 150,”

Kalau tembus 150, itu artinya daya beli dan posisi tawar petani makin kuat.

Jadi Stimulus Ekonomi Raksasa?

Menariknya, Dadan juga ngebandingin kondisi sekarang sama tahun lalu. Waktu itu, pemerintah ngeluarin stimulus ekonomi Rp 37 triliun di triwulan pertama dan hasilnya pertumbuhan ekonomi 4,7%.

Nah, tahun ini? Sampai Maret aja, peredaran dana BGN diprediksi nyampe Rp 62 triliun. Artinya, dari sisi angka, ini bahkan lebih gede dari stimulus awal tahun sebelumnya.

Menurut Dadan, efeknya mulai kerasa di lapangan.

“Banyak pelaku usaha melaporkan bahwa likuiditas di lapangan kini lebih mudah ditemukan karena perputaran uang yang masif dan merata,”

Alias duitnya beneran muter, bukan cuma angka di atas kertas.

Dengan model penyaluran langsung tanpa lewat pemda, BGN lagi nyobain sistem yang beda dari biasanya. Tinggal kita lihat, apakah skema “duit langsung ke dapur” ini bisa konsisten jangka panjang dan beneran jadi game changer buat ekonomi daerah.

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *