Peta kepemimpinan Bank Indonesia (BI) lagi memasuki babak baru. Setelah sebelumnya ramai soal pergantian pucuk pimpinan bank sentral, kini tiga nama resmi dipilih Komisi XI DPR RI untuk mengisi posisi penting di BI periode 2026–2031.
Nama Destry Damayanti menjadi sorotan utama karena dipilih sebagai calon Gubernur Bank Indonesia. Kalau seluruh proses pengangkatan berjalan sesuai tahapan, Destry bakal mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin BI secara definitif.
Nggak sendirian, Destry juga akan didampingi Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Ketiganya terpilih setelah menjalani rangkaian uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test bersama Komisi XI DPR pada 26–27 Agustus 2026.
Tapi sebenarnya siapa mereka? Seperti apa rekam jejaknya? Dan kenapa tiga nama ini dianggap punya pengalaman yang cukup kuat untuk berada di jajaran pimpinan bank sentral?
Destry Damayanti, Kandidat Gubernur BI dengan Segudang Pengalaman
Destry Damayanti bukan nama baru di dunia ekonomi Indonesia. Perempuan kelahiran Jakarta, 1963, ini sudah cukup lama malang melintang di sektor keuangan, pemerintahan, hingga Bank Indonesia.
Pendidikan ekonominya dimulai dari Universitas Indonesia. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi, Destry melanjutkan pendidikan ke Cornell University, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master of Science di bidang Regional Science.
Karier profesionalnya juga cukup panjang.
Pada 2000–2003, Destry pernah menjadi penasihat ekonomi senior untuk Duta Besar Inggris di Indonesia. Setelah itu, ia sempat berkecimpung di dunia akademik sebagai peneliti sekaligus pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Namanya kemudian makin dikenal di sektor finansial. Destry pernah menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005–2011, sebelum dipercaya menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011–2015.
Di pemerintahan, ia juga pernah memimpin Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN pada 2014–2015.
Pengalaman Destry nggak berhenti di situ. Pada 2015–2019, ia menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Dari Deputi Gubernur Senior hingga Kandidat Gubernur BI
Hubungan Destry dengan Bank Indonesia semakin kuat ketika ia diangkat menjadi Deputi Gubernur Senior BI pada 2019.
Jabatan tersebut kembali dipercayakan kepadanya untuk periode kedua pada 2024.
Situasi kemudian berubah pada Juli 2026 setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI. Dalam kondisi tersebut, Rapat Dewan Gubernur BI menunjuk Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara.
Presiden Prabowo Subianto kemudian mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI untuk periode 2026–2031.
Komisi XI DPR akhirnya memilih Destry melalui musyawarah mufakat pada 27 Agustus 2026.
Namun, statusnya belum sepenuhnya final. Destry masih harus menunggu proses pengesahan dalam Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan pada 1 September 2026.
Kalau seluruh proses selesai, Destry bakal menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif. Ini jelas bukan sekadar pergantian jabatan biasa, tetapi juga menjadi momen bersejarah dalam kepemimpinan bank sentral Indonesia.
Aida S. Budiman, Ekonom yang Lama Berkarier di BI
Kalau Destry punya pengalaman luas di sektor keuangan dan pemerintahan, Aida S. Budiman punya rekam jejak yang sangat lekat dengan Bank Indonesia.
Aida lahir di Bogor pada 1965. Pendidikan sarjananya ditempuh di Institut Pertanian Bogor dengan mengambil bidang Sosial-Ekonomi Pertanian/Agribisnis.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat.
Aida memperoleh gelar master ekonomi dari University of Southern California pada 1996 dan kemudian menyelesaikan pendidikan doktor ekonomi di Claremont Graduate University pada 2001.
Kariernya di Bank Indonesia sudah dimulai sejak lama dan terus berkembang hingga menduduki berbagai posisi strategis.
Aida pernah menjadi Kepala Departemen Internasional pada 2014–2018. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter.
Pada 2020–2022, Aida menjalankan tugas sebagai Asisten Gubernur. Dalam posisi tersebut, ia menangani berbagai hal strategis terkait kebijakan moneter, bauran kebijakan BI, serta koordinasi dengan kebijakan nasional.
Aida kemudian diangkat menjadi Deputi Gubernur BI pada 2022 dengan masa jabatan sampai 2027.
Kini, setelah Destry diproyeksikan naik menjadi Gubernur BI, posisi Deputi Gubernur Senior yang sebelumnya ditempati Destry menjadi kosong.
Aida pun dipilih Komisi XI sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI periode 2026–2031.
Dengan pengalaman panjang di internal BI, Aida bakal menjadi salah satu figur penting dalam menjaga kesinambungan kebijakan bank sentral.
Solikin M. Juhro, Spesialis Kebijakan Ekonomi dan Makroprudensial
Nama ketiga adalah Solikin M. Juhro.
Ekonom kelahiran Surabaya pada 1967 ini sudah berkarier di Bank Indonesia sejak 20 September 1994. Artinya, pengalaman Solikin di bank sentral sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Latar belakang pendidikannya juga kuat di bidang ekonomi.
Solikin memperoleh gelar sarjana Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Universitas Airlangga pada 1991.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan master ekonomi di University of Michigan pada 1998 dan menyelesaikan gelar doktor bidang ekonomi moneter dari Universitas Indonesia pada 2005.
Sepanjang kariernya di BI, Solikin pernah menduduki berbagai posisi strategis.
Ia pernah menjadi Pelaksana Tugas Kepala Departemen Institut BI pada 2016–2018, kemudian menjadi Kepala Departemen Institut BI pada 2018–2022.
Kariernya kemudian berlanjut ke bidang kebijakan ekonomi dan moneter. Pada 2022–2023, Solikin menjabat Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter.
Sejak 16 Juni 2023, ia dipercaya sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial.
Pengalaman tersebut membuat Solikin cukup dekat dengan isu-isu penting seperti stabilitas sistem keuangan, kebijakan makroprudensial, pertumbuhan ekonomi, hingga koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menariknya, perjalanan Solikin menuju kursi Deputi Gubernur BI bukan baru terjadi sekarang.
Pada Januari 2026, ia sebelumnya sudah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan untuk posisi Deputi Gubernur BI. Saat itu, ia bersaing dengan Dicky Kartikoyono dan Thomas Djiwandono.
Namun, proses kali ini kembali mempertemukan Solikin dengan kandidat lain, yakni M. Anwar Bashori.
Komisi XI akhirnya memilih Solikin sebagai calon Deputi Gubernur BI periode 2026–2031.
Kenapa Pergantian Ini Penting?
Buat sebagian orang, pergantian pejabat BI mungkin terasa seperti berita politik-ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, keputusan di Bank Indonesia bisa punya efek yang terasa sampai ke masyarakat.
BI punya peran penting dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, mengarahkan kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta mendukung kelancaran sistem pembayaran.
Jadi, siapa yang duduk di jajaran Dewan Gubernur BI bakal ikut menentukan arah kebijakan bank sentral dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Mulai dari pergerakan rupiah, inflasi, suku bunga, kondisi sektor keuangan, sampai perkembangan sistem pembayaran digital, semuanya berkaitan dengan kebijakan yang berada dalam radar BI.
Karena itu, rekam jejak para pimpinan baru menjadi hal yang cukup penting untuk diperhatikan.
Destry membawa pengalaman panjang di sektor finansial, LPS, pemerintahan, serta BI.
Aida punya pengalaman panjang di internal BI, terutama dalam kebijakan ekonomi dan moneter.
Sementara Solikin punya rekam jejak kuat dalam kebijakan ekonomi, moneter, dan makroprudensial.
Tiga Nama, Satu Tantangan Besar
Kalau proses pengangkatan berjalan sampai tuntas, Destry, Aida, dan Solikin bakal menghadapi tantangan ekonomi yang nggak ringan.
Bank sentral harus tetap menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus merespons perubahan ekonomi global yang bisa bergerak cepat.
Di sisi lain, kebijakan suku bunga juga harus memperhatikan kondisi ekonomi domestik. Terlalu ketat bisa memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi, sementara kebijakan yang terlalu longgar juga harus tetap memperhitungkan stabilitas harga dan nilai tukar.
Belum lagi perkembangan ekonomi digital dan sistem pembayaran yang makin cepat.
Artinya, tiga calon pimpinan ini nggak cuma dituntut punya pengalaman, tetapi juga harus mampu membaca perubahan ekonomi yang semakin dinamis.
Tinggal Menunggu Tahap Pengesahan
Untuk saat ini, keputusan Komisi XI memang menjadi langkah penting, tetapi prosesnya belum benar-benar selesai.
Destry sebagai calon Gubernur BI, Aida sebagai calon Deputi Gubernur Senior, dan Solikin sebagai calon Deputi Gubernur masih harus melewati tahapan pengangkatan berikutnya sesuai mekanisme yang berlaku.
Rapat Paripurna DPR dijadwalkan pada 1 September 2026 menjadi salah satu tahapan penting untuk menentukan kelanjutan proses tersebut.
Jika seluruh tahapan berjalan lancar, susunan baru kepemimpinan BI periode 2026–2031 akan memasuki fase berikutnya.
Pergantian pucuk pimpinan Bank Indonesia kali ini jelas menarik perhatian karena bukan cuma soal siapa yang mengisi jabatan, tetapi juga soal arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Destry Damayanti membawa pengalaman panjang dari dunia finansial hingga bank sentral. Aida S. Budiman punya perjalanan karier yang kuat di internal BI. Sementara Solikin M. Juhro dikenal punya pengalaman panjang di bidang kebijakan ekonomi, moneter, dan makroprudensial.
Kini publik tinggal menunggu tahapan pengesahan berikutnya.
Kalau semuanya berjalan sesuai proses, periode 2026–2031 bakal menjadi era baru bagi Bank Indonesia—dengan Destry Damayanti di posisi teratas dan dua ekonom berpengalaman di sisinya.
Buat masyarakat, yang paling penting tentu bukan sekadar nama siapa yang menjabat, tetapi bagaimana kepemimpinan baru BI nantinya mampu menjaga rupiah tetap stabil, mengendalikan inflasi, memperkuat sistem keuangan, dan memastikan ekonomi Indonesia tetap punya ruang untuk tumbuh di tengah situasi global yang terus berubah.








