Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Kamis, 13 Agustus 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Peringatan St. Pontianus, St. Hippolitus, dengan Warna Liturgi Hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12
Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:
“Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak.
Maka engkau, anak manusia, sediakanlah bagimu barang-barang seorang buangan dan berjalanlah seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; pergilah dari tempatmu sekarang ke tempat yang lain seperti seorang buangan di hadapan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak.
Bawalah barang-barangmu itu ke luar seperti barang-barang seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; dan engkau sendiri harus keluar pada malam hari di hadapan mata mereka, seperti seorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan.
Di hadapan mata mereka perbuatlah sebuah lobang di tembok dan keluarlah dari situ.
Di hadapan mata mereka taruhlah barang-barangmu ke atas bahumu, dan bawalah itu ke luar pada malam gelap; engkau harus menutupi mukamu, sehingga engkau tidak melihat tanah; sebab Aku membuat engkau menjadi lambang bagi kaum Israel.”
Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku: aku membawa pada siang hari barang-barang seperti barang-barang seorang buangan dan pada malam hari aku membuat dengan tanganku sebuah lobang di tembok. Pada malam gelap aku keluar dan di hadapan mata mereka aku menaruh barang-barangku ke atas bahuku.
Pada hari besoknya datanglah firman TUHAN kepadaku:
“Hai anak manusia, bukankah ditanya oleh kaum Israel, kaum pemberontak itu kepadamu: Apakah yang kaulakukan ini?
Katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana.
Katakanlah: Aku menjadi lambang bagimu; seperti yang kulakukan ini, begitulah akan berlaku kepada mereka: sebagai orang buangan mereka akan pergi ke pembuangan.
Dan raja yang di tengah-tengah mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap dan akan pergi ke luar; orang akan membuat sebuah lobang di tembok supaya ada baginya jalan keluar; ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak akan melihat tanah itu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-57.58-59.61-62
Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya.
Mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya.
Mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka.
Ketika Allah mendengarnya, Ia menjadi gemas, Ia menolak Israel sama sekali.
Ia membiarkan kekuatan-Nya tertawan, membiarkan kehormatan-Nya jatuh ke tangan lawan.
Ia membiarkan umat-Nya dimakan pedang, dan gemaslah Ia atas milik-Nya sendiri.
Bacaan Injil: Matius 18:21-19:1
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: “Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.”
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: “Bayar hutangmu!”
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: “Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.”
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”
Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
“Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis, 13 Agustus 2026
Ada luka yang memang sulit dilupakan. Ada kata-kata yang pernah menyakiti hati begitu dalam, ada pengkhianatan yang mengubah kepercayaan menjadi kekecewaan, dan ada perlakuan yang meninggalkan bekas hingga bertahun-tahun. Karena itu, ketika Petrus bertanya kepada Yesus, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku?”, sesungguhnya ia sedang menyuarakan pergumulan yang juga kita alami. Kita ingin mengampuni, tetapi hati masih terluka. Kita ingin berdamai, tetapi kenangan pahit terus muncul. Kita ingin melangkah maju, tetapi rasa kecewa seolah menahan langkah.
Jawaban Yesus sungguh mengejutkan. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus tentu tidak sedang mengajarkan kita menghitung jumlah pengampunan. Angka itu melambangkan bahwa pengampunan tidak boleh dibatasi oleh hitungan manusia. Mengampuni adalah cara hidup orang yang telah lebih dahulu mengalami belas kasih Allah.
Melalui perumpamaan tentang hamba yang dihapuskan utangnya, Yesus memperlihatkan kontras yang sangat tajam. Hamba itu memohon belas kasihan kepada rajanya karena ia memiliki utang yang mustahil dibayar. Sang raja tergerak oleh belas kasih dan menghapus seluruh utangnya. Namun, begitu keluar, hamba itu justru memperlakukan kawannya dengan sangat kejam hanya karena utang yang jauh lebih kecil. Ia lupa bahwa dirinya sendiri baru saja diselamatkan oleh belas kasih.
Bukankah kisah ini sering kali menjadi cermin kehidupan kita? Betapa mudah kita memohon pengampunan kepada Tuhan ketika kita jatuh dalam dosa. Kita berharap Tuhan memahami kelemahan kita, memberi kesempatan baru, dan tidak menghukum sesuai kesalahan kita. Namun, terhadap sesama, kita sering kali bersikap jauh lebih keras. Kita sulit melupakan kesalahan orang lain. Kita menyimpan dendam, menjaga jarak, bahkan berharap orang yang pernah melukai kita merasakan penderitaan yang sama.
Yesus mengingatkan bahwa orang yang sungguh memahami besarnya kasih Allah akan belajar menyalurkan kasih itu kepada sesama. Pengampunan bukan berarti menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang tidak penting. Pengampunan juga bukan berarti membiarkan ketidakadilan terus terjadi. Mengampuni berarti menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan dan memilih tidak membiarkan kebencian menguasai hati. Ketika seseorang terus memelihara dendam, sebenarnya orang pertama yang menderita adalah dirinya sendiri. Hati menjadi sempit, pikiran dipenuhi kemarahan, dan damai yang Tuhan berikan perlahan hilang.
Bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel memperlihatkan bagaimana Allah terus mengingatkan umat-Nya yang keras hati. Nabi Yehezkiel diminta melakukan tindakan yang tidak biasa agar bangsa Israel sadar akan akibat dari sikap mereka yang terus menolak Tuhan. Mereka memiliki mata tetapi tidak sungguh melihat, memiliki telinga tetapi tidak sungguh mendengar. Inilah gambaran hati yang telah tertutup. Allah berbicara, tetapi manusia tidak lagi mau mendengarkan.
Renungan ini juga mengajak kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah mungkin Tuhan sudah lama mengundang kita untuk berdamai, tetapi kita memilih mempertahankan luka? Apakah mungkin Tuhan telah berkali-kali mengetuk hati agar kita melepaskan kebencian, tetapi kita merasa dendam lebih pantas dipelihara daripada kasih? Kadang-kadang kita meminta Tuhan mengubah orang lain, padahal justru hati kitalah yang lebih dahulu perlu diubahkan.
Mengampuni memang tidak selalu terjadi dalam sekejap. Ada luka yang membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Ada pengkhianatan yang meninggalkan rasa sakit begitu mendalam. Tuhan memahami proses itu. Namun, Ia tidak ingin kita berhenti dalam kepahitan. Sedikit demi sedikit, dengan rahmat-Nya, Tuhan memampukan kita melepaskan beban yang selama ini mengikat hati. Ketika kita berani mengampuni, bukan hanya hubungan dengan sesama yang dipulihkan, tetapi kita sendiri mengalami kebebasan batin yang selama ini hilang.
St. Pontianus dan St. Hippolitus yang kita kenangkan hari ini juga mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Kristus sering kali lahir melalui perjalanan pertobatan, kerendahan hati, dan keberanian berdamai. Di tengah penderitaan dan penganiayaan, mereka tetap memilih iman dan kasih sebagai jalan hidup. Kesaksian mereka mengingatkan bahwa kemenangan orang beriman bukanlah ketika berhasil membalas kejahatan, melainkan ketika kasih Kristus lebih kuat daripada luka yang pernah diterima.
Kiranya Sabda Tuhan hari ini membuka hati kita untuk menyadari betapa besar belas kasih yang telah Allah curahkan kepada kita. Jika Tuhan tidak pernah lelah memberikan kesempatan baru kepada kita, maka marilah kita juga belajar memberikan kesempatan bagi sesama untuk bertobat, berubah, dan memulai kembali. Di sanalah hati kita semakin menyerupai hati Kristus yang penuh belas kasih dan tidak pernah berhenti mengampuni.
Doa Penutup
Ya Bapa yang penuh belas kasih, lembutkan hati kami agar mampu mengampuni dengan tulus seperti Engkau telah mengampuni kami. Bebaskan kami dari dendam, kepahitan, dan keinginan membalas. Mampukan kami membangun damai, memulihkan persaudaraan, serta menghadirkan kasih Kristus melalui sikap dan tindakan kami. Amin.








