Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Rabu, 12 Agustus 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Peringatan St. Yohana Fransiska de Chantal, dengan Warna Liturgi Hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: Yeh 9:1-7; 10:18-22
Lalu aku mendengar Dia berseru dengan suara yang nyaring: “Maju ke mari, hai, yang harus menjalankan hukuman atas kota ini! Masing-masing dengan alat pemusnah di tangannya!”
Lihat, enam orang laki-laki datang dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing dengan alat pemukul di tangannya. Dan satu orang di antara mereka berpakaian lenan dan di sisinya terdapat suatu alat penulis. Mereka ini masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga.
Pada saat itu kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci dan Dia memanggil orang yang berpakaian lenan dan yang mempunyai alat penulis di sisinya.
Firman TUHAN kepadanya: “Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana.”
Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: “Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan.
Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!” Lalu mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci.
Kemudian firman-Nya kepada mereka: “Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!” Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota.
Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub.
Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-roda mereka bersama-sama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.
Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub.
Masing-masing mempunyai empat muka dan bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang berbentuk tangan manusia.
Kelihatannya muka mereka adalah serupa dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke mukanya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2.3-4.5-6
Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!
Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.
Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.
TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
Bacaan Injil: Matius 18:15-20
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Rabu, 12 Agustus 2026
Dalam kehidupan bersama, salah satu hal yang paling sulit dilakukan bukanlah bekerja keras atau berkorban, melainkan menegur dengan kasih dan menerima teguran dengan rendah hati. Tidak sedikit persahabatan retak karena kesalahpahaman yang dibiarkan. Banyak keluarga hidup dalam suasana dingin karena masing-masing memilih diam daripada berbicara dengan jujur. Ada pula orang yang memilih membicarakan kesalahan orang lain kepada banyak orang, tetapi tidak pernah memiliki keberanian untuk berbicara langsung kepada yang bersangkutan. Akibatnya, luka semakin dalam, kepercayaan hilang, dan hubungan yang seharusnya dapat dipulihkan justru semakin rusak.
Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan jalan yang sangat bijaksana untuk menghadapi kesalahan sesama. Ia tidak mengajarkan kita untuk mempermalukan orang yang bersalah, apalagi menghakiminya di hadapan banyak orang. Sebaliknya, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Kalimat ini menunjukkan bahwa tujuan teguran bukanlah memenangkan perdebatan atau membuktikan bahwa kita lebih benar. Tujuan utamanya adalah mendapatkan kembali saudara kita. Yang dicari bukan kekalahan seseorang, melainkan pemulihan hubungan dan pertobatan hati.
Inilah kasih yang dewasa. Kasih tidak membiarkan orang terus berjalan dalam kesalahan, tetapi juga tidak menjatuhkan martabatnya. Menegur dengan kasih berarti berbicara pada waktu yang tepat, dengan kata-kata yang membangun, dan dengan hati yang sungguh menginginkan kebaikan orang lain. Sebaliknya, menerima teguran juga membutuhkan kerendahan hati. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Sering kali Tuhan justru memakai orang-orang di sekitar kita untuk mengingatkan ketika langkah hidup mulai menyimpang.
Bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel menghadirkan gambaran yang cukup keras tentang penghakiman Allah atas Yerusalem. Namun, di balik penglihatan itu tersimpan pesan yang sangat mendalam. Allah memberi tanda kepada mereka yang tetap setia, yang berdukacita melihat dosa dan ketidakadilan yang merajalela. Mereka bukan orang yang merasa dirinya paling suci, melainkan orang-orang yang hatinya masih peka terhadap kehendak Tuhan. Mereka tidak terbiasa menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa. Mereka tetap menjaga hati nurani agar tidak mati oleh kebiasaan berkompromi dengan kejahatan.
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Tidak sedikit orang yang akhirnya terbiasa melihat kebohongan, fitnah, ketidakjujuran, dan ketidakadilan, hingga semua itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Bahkan, budaya menghakimi di media sosial sering kali membuat orang lebih cepat menghukum daripada memahami. Seseorang dapat dicela habis-habisan hanya karena satu kesalahan, tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan atau berubah. Injil hari ini justru mengajak kita menempuh jalan yang berbeda. Sebelum berbicara kepada banyak orang, datanglah lebih dahulu kepada saudara kita. Sebelum menyebarkan cerita, bangunlah dialog. Sebelum menghukum, berilah ruang bagi pertobatan.
Yesus kemudian memberikan janji yang begitu menguatkan: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kehadiran Kristus bukan hanya terasa dalam gereja ketika liturgi berlangsung. Ia juga hadir ketika sebuah keluarga berkumpul untuk saling mengampuni, ketika suami dan istri memilih berdamai daripada mempertahankan ego, ketika orang tua dan anak berani saling mendengarkan, ketika sahabat memilih menyelesaikan persoalan melalui percakapan yang jujur, dan ketika komunitas berusaha menjaga persatuan meskipun memiliki banyak perbedaan.
Perayaan St. Yohana Fransiska de Chantal yang kita kenangkan hari ini juga menjadi teladan tentang kasih yang tetap bertahan di tengah penderitaan. Setelah mengalami kehilangan besar dalam hidupnya, ia tidak membiarkan kepahitan menguasai hatinya. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada Tuhan dan mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama. Ia menunjukkan bahwa hati yang dipenuhi kasih Kristus selalu mampu menjadi pembawa damai, bukan penyebar perpecahan.
Maka Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk memeriksa hati. Apakah selama ini kita lebih mudah membicarakan kesalahan orang daripada mendoakannya? Apakah kita menegur karena sungguh mengasihi, atau karena ingin melampiaskan kemarahan? Dan ketika ada yang mengingatkan kita, apakah kita langsung menolak karena gengsi, atau berani melihatnya sebagai kesempatan untuk bertumbuh?
Tuhan tidak menghendaki Gereja-Nya dipenuhi orang-orang yang saling menjatuhkan. Ia menghendaki umat yang berani saling menuntun menuju pertobatan. Ketika kasih menjadi dasar dalam setiap perkataan dan tindakan, kehadiran Kristus sungguh nyata di tengah kehidupan kita. Di sanalah luka dipulihkan, persaudaraan dipererat, dan hati manusia dibawa semakin dekat kepada Allah.
Doa Penutup
Ya Bapa yang Mahabaik, ajarlah kami berbicara dengan kasih, menerima teguran dengan rendah hati, dan membangun persaudaraan yang membawa damai. Semoga Sabda-Mu membimbing hati kami untuk mengampuni, memulihkan hubungan, serta menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga, pekerjaan, dan lingkungan kami. Amin.








