Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Selasa, 11 Agustus 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Perayaan Wajib St. Klara, dengan Warna Liturgi Putih.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: Yeh 2:8-3:4
Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.”
Aku melihat, sesungguhnya ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab, lalu dibentangkan-Nya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.
Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.”
Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan.
Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.
Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14.24.72.103.111.131
Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.
Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.
Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.
Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.
Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.
Bacaan Injil: Matius 18:1-5.10.12-14
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”
Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”
“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.
Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?
Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.
Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Selasa, 11 Agustus 2026
Ada satu pertanyaan yang sangat manusiawi dalam Injil hari ini: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan itu sebenarnya masih hidup sampai sekarang. Kita sering mengukur nilai diri dari jabatan, keberhasilan, harta, pengaruh, atau pujian yang diterima. Tanpa disadari, hidup berubah menjadi perlombaan untuk terlihat lebih hebat daripada orang lain. Akibatnya, hati mudah dipenuhi iri, kecewa, bahkan merasa diri gagal ketika orang lain tampak lebih berhasil.
Namun Yesus tidak menjawab pertanyaan itu dengan teori atau penjelasan panjang. Ia justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah para murid. Anak kecil menjadi lambang hati yang sederhana, tulus, percaya, dan tidak sibuk membangun kebesaran dirinya sendiri. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti bersikap kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Yesus mengajak kita memiliki hati yang rendah, mau belajar, mudah percaya kepada penyelenggaraan Allah, dan tidak merasa paling benar.
Sikap inilah yang sering paling sulit dijalani dalam kehidupan modern. Kita hidup di tengah budaya yang mendorong orang untuk selalu tampil sempurna. Media sosial, lingkungan kerja, bahkan dalam keluarga sekalipun, terkadang membuat seseorang merasa harus terus membuktikan diri agar dihargai. Tanpa sadar kita mulai mengukur martabat berdasarkan pencapaian, bukan berdasarkan kasih Allah yang telah lebih dahulu menerima kita sebagai anak-anak-Nya.
Bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel memperlihatkan bagaimana seorang nabi dipanggil bukan pertama-tama untuk berbicara, melainkan untuk “memakan gulungan kitab.” Sabda Tuhan harus lebih dahulu masuk ke dalam hati, memenuhi pikiran, dan mengubah kehidupan sang nabi sebelum diwartakan kepada orang lain. Menariknya, gulungan kitab yang berisi ratapan dan keluh kesah justru terasa manis seperti madu. Ini menunjukkan bahwa Sabda Tuhan memang tidak selalu berisi hal-hal yang menyenangkan untuk didengar. Ada teguran, ajakan bertobat, dan undangan untuk meninggalkan dosa. Namun ketika diterima dengan hati yang terbuka, semuanya menjadi sumber sukacita karena membawa manusia kembali kepada kehidupan yang benar.
Di sinilah kedua bacaan hari ini saling melengkapi. Orang yang rendah hati seperti anak kecil adalah orang yang bersedia membiarkan Sabda Tuhan membentuk hidupnya. Ia tidak memilih-milih firman yang sesuai keinginannya, tetapi menerima seluruh kehendak Allah, meskipun kadang menantang kenyamanan atau mengoreksi jalan hidup yang selama ini ditempuh.
Yesus kemudian melanjutkan pengajaran-Nya dengan kisah gembala yang mencari seekor domba yang hilang. Bagi dunia, mungkin lebih masuk akal menjaga sembilan puluh sembilan ekor yang sudah aman. Namun kasih Allah tidak pernah menghitung manusia berdasarkan untung rugi. Bagi Tuhan, satu jiwa yang tersesat tetap berharga. Tidak ada seorang pun yang dianggap terlalu jauh, terlalu berdosa, atau terlalu gagal untuk dicari kembali.
Betapa sering kita justru mudah memberi label kepada orang lain. Ada yang pernah melakukan kesalahan, lalu terus dikenang sebagai orang yang buruk. Ada yang gagal sekali, lalu dianggap tidak layak dipercaya lagi. Bahkan kadang kita pun menghukum diri sendiri karena masa lalu yang terus menghantui. Injil hari ini mengingatkan bahwa Allah memandang manusia dengan kasih yang tidak mudah menyerah. Selama masih ada kesempatan untuk kembali, Tuhan tetap mencari, memanggil, dan menantikan.
Perayaan St. Klara yang kita rayakan hari ini semakin memperjelas makna Sabda tersebut. Kekudusan tidak lahir dari keinginan menjadi terkenal, melainkan dari keberanian merendahkan diri dan membiarkan hidup dipenuhi oleh kehendak Allah. Dunia mungkin mengagungkan orang yang paling kuat, paling kaya, atau paling berpengaruh. Tetapi di mata Tuhan, yang terbesar adalah mereka yang hatinya tetap sederhana, setia mendengarkan Sabda-Nya, dan rela menjadi saluran kasih bagi sesama.
Kiranya Sabda hari ini mengajak kita untuk berhenti mengejar pengakuan manusia sebagai tujuan utama hidup. Marilah kita membiarkan firman Tuhan tinggal dalam hati, membentuk cara berpikir, cara berbicara, dan cara memperlakukan sesama. Ketika hati dipenuhi Sabda Allah dan dibentuk menjadi rendah hati seperti seorang anak kecil, kita akan semakin mampu melihat bahwa setiap orang berharga di hadapan Tuhan, termasuk mereka yang sedang tersesat, terluka, atau merasa tidak lagi pantas dikasihi.
Doa Penutup
Ya Bapa yang penuh kasih, tanamkan Sabda-Mu dalam hati kami agar membentuk kerendahan hati, ketulusan, dan keberanian mengikuti kehendak-Mu. Mampukan kami menghargai sesama, mengampuni, serta menjadi tanda kasih-Mu bagi mereka yang terluka dan mencari harapan. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.








