Bacaan Injil Katolik Hari Ini Jumat 3 Juli 2026 dan Renungan Harian Katolik-Pesta St. Thomas Rasul

bacaan, ekaristi, Harian, homili, injil, Katolik, misa, Perayaan, renungan
Rate this post

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Read More

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Jumat 3 Juli 2026.

Kalender Liturgi hari Jumat 3 Juli 2026 adalah Pesta St. Thomas Rasul, dengan Warna Liturgi Merah.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Jumat 3 Juli 2026:

Bacaan I: Efesus 2:19-22

“Kamu dibangun di atas dasar para rasul.”

Saudara-saudara, kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan sewarga dengan orang kudus dan anggota keluarga Allah. Kamu dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Di atas Dia tumbuhlah seluruh bangunan, yang rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus dalam Tuhan. Di atas Dia pula kamu turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 117:1.2

Refrain: Pergi ke seluruh dunia, wartakanlah Injil!

  • Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
  • Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil: Lukas 24:32

Refrain: Alleluya, alleluya, alleluya.

Yesus bersabda, “Hai Tomas, karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Bacaan Injil: Yohanes 20:24-29

“Ya Tuhan dan Allahku.”

Pada hari Minggu Paskah, ketika Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, Tomas, seorang dari kedua belas murid, yang juga disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka.

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!” tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, aku sama sekali tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu, dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagimu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Tomas menjawab kepada-Nya, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Jumat 3 Juli 2026

Pesta St. Thomas Rasul

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Thomas Rasul. Nama Thomas sering diingat karena keraguannya. Namun, jika kita merenungkan Injil lebih dalam, kita akan menemukan bahwa kisah ini bukan sekadar tentang seseorang yang sulit percaya. Kisah ini adalah tentang kasih Yesus yang begitu sabar menemui hati manusia yang sedang bergumul.

Dalam Bacaan Pertama, Santo Paulus mengingatkan bahwa kita bukan lagi orang asing di hadapan Allah. Kita adalah anggota keluarga Allah, dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Sebuah bangunan hanya akan kokoh apabila berdiri di atas fondasi yang benar. Begitu pula hidup kita. Kepandaian, harta, jabatan, atau keberhasilan tidak pernah cukup menjadi dasar kehidupan, karena semuanya dapat berubah. Hanya Kristus yang tetap, yang tidak pernah meninggalkan manusia, bahkan ketika manusia sendiri mulai meragukan-Nya.

Thomas mengalami pergulatan yang sangat manusiawi. Ia kehilangan harapan setelah melihat Gurunya disalibkan. Luka kekecewaan membuatnya sulit menerima kesaksian teman-temannya. Ia membutuhkan bukti karena hatinya terluka. Sikap Thomas ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan banyak orang saat ini. Ketika doa terasa belum dijawab, ketika kehilangan orang yang dikasihi, ketika usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil, atau ketika hidup terasa tidak adil, sering muncul pertanyaan dalam hati, “Tuhan, apakah Engkau sungguh ada? Mengapa Engkau membiarkan semuanya terjadi?”

Yesus tidak marah kepada Thomas. Ia juga tidak mempermalukannya di depan para murid yang lain. Sebaliknya, Yesus datang membawa damai. Kalimat pertama yang diucapkan-Nya bukan teguran, melainkan, “Damai sejahtera bagimu.” Sesudah itu Yesus mengundang Thomas untuk melihat luka-luka-Nya. Tuhan memahami bahwa hati yang terluka tidak membutuhkan hukuman, tetapi kehadiran. Tuhan tahu bahwa iman tidak bertumbuh karena paksaan, melainkan karena mengalami kasih-Nya secara nyata.

Luka-luka Yesus menjadi jawaban yang sangat mendalam. Tuhan yang bangkit tidak menghapus bekas penderitaan-Nya. Luka itu tetap ada, tetapi kini menjadi tanda kemenangan. Hal ini mengajarkan bahwa penderitaan yang diserahkan kepada Tuhan tidak akan sia-sia. Luka kehidupan tidak selalu langsung hilang, tetapi bersama Kristus, luka itu dapat menjadi tempat lahirnya harapan baru, belas kasih, dan kedewasaan iman.

Jawaban Thomas menjadi salah satu pengakuan iman yang paling indah dalam seluruh Injil, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kalimat itu lahir bukan karena Thomas berhasil menyelesaikan semua pertanyaannya, tetapi karena ia akhirnya berjumpa dengan Yesus yang hidup. Pertemuan pribadi dengan Kristus mengubah keraguan menjadi keyakinan. Inilah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh setiap orang beriman. Bukan sekadar mengetahui banyak tentang Tuhan, melainkan membuka hati agar sungguh mengalami kehadiran-Nya dalam perjalanan hidup.

Yesus kemudian berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Sabda ini ditujukan kepada kita semua. Kita memang tidak melihat Yesus secara langsung seperti Thomas, tetapi kita dapat mengenal-Nya melalui Sabda-Nya, Ekaristi, doa, dan kasih yang kita alami melalui orang-orang di sekitar kita. Iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan hidup, melainkan memilih tetap percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika jalan-Nya belum kita pahami.

Pada Pesta Santo Thomas Rasul ini, kita diajak untuk tidak malu membawa keraguan, ketakutan, dan pertanyaan kita kepada Tuhan. Ia tidak pernah menolak orang yang datang dengan hati yang jujur. Sebaliknya, Ia selalu hadir membawa damai dan menguatkan kembali fondasi iman kita. Semoga hidup kita sungguh dibangun di atas Kristus, Sang Batu Penjuru, sehingga dalam keadaan apa pun kita mampu mengucapkan dengan penuh keyakinan seperti Santo Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Doa Penutup

Tuhan Yesus, teguhkanlah iman kami ketika hati diliputi keraguan dan harapan terasa memudar. Ajarlah kami tetap percaya kepada kasih-Mu, membuka hati terhadap penyertaan-Mu, serta menjadi pribadi yang membawa damai, pengharapan, dan kasih bagi keluarga, pekerjaan, serta semua orang yang kami jumpai. Amin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *