Bacaan Injil Katolik Hari Ini Sabtu 4 Juli 2026 dan Renungan Harian Katolik-Terbuka bagi Rahmat

bacaan, ekaristi, Harian, homili, injil, Katolik, misa, Perayaan, renungan
catholic praying hands with bible and rosary beads background and copy space
Rate this post

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Read More

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 4 Juli 2026.

Kalender Liturgi hari Sabtu 4 Juli 2026 adalah Pekan Biasa ke-XIII, Peringatan St. Elisabet dr Portugal, dengan Warna Liturgi Hijau.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 4 Juli 2026:

Bacaan I: Am. 9:11-15

“Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,

supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,” demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini.

“Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah firman TUHAN, “bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran.

Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya.

Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka,” firman TUHAN, Allahmu.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mzm. 85:9,11-12,13-14

  • Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.
  • Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.
  • Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya.
  • Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Bacaan Injil: Matius 9:14-17

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”

Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.

Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Sabtu 4 Juli 2026

“Terbuka bagi Rahmat”

Saudara-saudari terkasih,

Tidak sedikit orang yang ingin hidupnya berubah menjadi lebih baik, tetapi pada saat yang sama masih mempertahankan cara berpikir, kebiasaan, dan sikap lama yang justru menjadi penyebab kesulitan itu sendiri. Kita berharap hubungan dalam keluarga menjadi lebih damai, tetapi masih mudah tersinggung. Kita ingin hidup lebih tenang, tetapi terus membiarkan kecemasan menguasai hati. Kita ingin semakin dekat dengan Tuhan, tetapi hati kita masih dipenuhi kesibukan yang membuat suara-Nya nyaris tidak terdengar. Perubahan memang diinginkan, tetapi tidak selalu disertai kesiapan untuk memperbarui diri.

Melalui Nabi Amos, Allah menyampaikan janji yang begitu indah. Ia akan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh, memulihkan reruntuhan, dan mengembalikan sukacita bagi umat-Nya. Gambaran ini bukan hanya tentang membangun kembali sebuah bangsa, tetapi juga tentang hati manusia. Tuhan tidak pernah senang melihat kehidupan anak-anak-Nya hancur oleh dosa, keputusasaan, atau luka batin. Ia selalu berinisiatif memulihkan apa yang rusak. Ketika manusia merasa hidupnya berantakan, Tuhan justru melihat kemungkinan untuk membangun sesuatu yang lebih indah daripada sebelumnya.

Namun, Injil hari ini memberikan sebuah syarat penting agar pembaruan itu sungguh terjadi. Yesus berbicara tentang anggur baru yang tidak dapat disimpan dalam kantong kulit yang lama. Maksud-Nya sangat jelas. Anugerah Tuhan yang baru membutuhkan hati yang juga bersedia diperbarui. Tuhan tidak hanya ingin memperbaiki keadaan di luar diri kita. Ia ingin membentuk cara berpikir, cara memandang sesama, cara mengambil keputusan, bahkan cara kita mengasihi.

Sering kali kita memohon agar Tuhan mengubah hidup kita, tetapi kita sendiri menolak berubah. Kita meminta damai, tetapi enggan mengampuni. Kita memohon kebijaksanaan, tetapi tidak mau belajar mendengarkan. Kita meminta berkat dalam pekerjaan, tetapi masih bekerja tanpa kejujuran. Kita ingin keluarga dipenuhi kasih, tetapi lebih sering mempertahankan ego daripada membangun dialog. Tuhan sebenarnya terus mencurahkan “anggur baru” berupa rahmat, kesempatan, dan kekuatan, tetapi semua itu sulit bertahan jika hati kita masih menjadi “kantong lama” yang keras dan tertutup.

Yesus juga menjawab pertanyaan mengenai puasa dengan menunjukkan bahwa iman bukan pertama-tama soal menjalankan aturan, melainkan tentang menjalin relasi dengan Allah. Ada waktunya bersukacita karena Tuhan hadir, dan ada waktunya berpuasa sebagai ungkapan kerinduan akan Dia. Artinya, hidup beriman bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi memberi ruang agar Tuhan benar-benar tinggal dalam hati dan membimbing seluruh perjalanan hidup kita.

Santa Elisabet dari Portugal yang kita peringati hari ini memberikan teladan nyata tentang pembaruan hati. Di tengah berbagai konflik dan pertentangan dalam keluarganya maupun kerajaannya, ia memilih menjadi pembawa damai. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, tetapi menghadirkan kasih yang sanggup memulihkan. Ia memahami bahwa perubahan besar selalu berawal dari hati yang bersedia dibentuk oleh Tuhan.

Sabda Tuhan mengajak kita melihat diri sendiri dengan jujur. Mungkin bukan keadaan di sekitar yang paling membutuhkan perubahan, melainkan hati kita sendiri. Ketika hati dibuka bagi Tuhan, cara kita berbicara menjadi lebih lembut, cara kita memandang orang lain menjadi lebih penuh belas kasih, dan cara kita menjalani kehidupan menjadi lebih bijaksana. Di situlah janji Allah dalam Bacaan Pertama mulai nyata. Ia membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh, bukan dengan cara yang ajaib semata, tetapi melalui hati yang bersedia diperbarui oleh kasih-Nya.

Kiranya kita tidak takut meninggalkan kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari Tuhan. Semoga kita menjadi “kantong baru” yang siap menerima rahmat-Nya, sehingga kehidupan kita semakin memancarkan damai, pengharapan, dan sukacita bagi orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.

Doa Penutup

Yesusku yang baik, perbaruilah hati kami agar mampu menerima rahmat-Mu dengan tulus. Lepaskan kami dari sikap yang menghambat pertumbuhan iman. Bentuklah kami menjadi pribadi yang rendah hati, bijaksana, penuh kasih, dan sanggup menghadirkan damai dalam keluarga, pekerjaan, serta lingkungan tempat kami hidup. Amin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *