Bacaan Injil Katolik Hari Ini Selasa, 15 September 2026 Lengkap Renungan Harian Injil, Perayaan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

bacaan, ekaristi, Harian, homili, injil, Katolik, misa, Perayaan, renungan
Rate this post

Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.

Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.

Read More

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Selasa, 15 September 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Perayaan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita, dengan warna liturgi Putih.

Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.

Bacaan Pertama: Ibr 5:7-9

Kristus telah belajar menjadi taat,dan Ia menjadi pokok keselamatan abadi.

Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan.

Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20

Ref: Kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,janganlah sekali-kali aku mendapat malu.Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,sendengkanlah telinga-Mu kepadaku,bersegeralah melepaskan daku.

Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung,dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku;oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.

Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.

Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata “Engkaulah Allahku!”Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah aku dari tangan orang-orang yang mengejarku.

Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau simpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!

Bait Pengantar Injil: Luk 7:16

Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah mengunjungi umat-Nya.

Bacaan Injil: Yoh 19:25-27

Inilah anakmu! – Inilah ibumu!

Waktu Yesus bergantung di salib, didekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

ATAU BACAAN LAIN: Luk 2:33-35

“Suatu Pedang akan menembus jiwamu sendiri”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas: Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,

“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Selasa, 15 September 2026

Saudara-saudari terkasih, pada hari ini Gereja mengajak kita mengenang Santa Perawan Maria Berdukacita. Kita melihat Maria berdiri dekat salib ketika Putranya menderita. Ia tidak dapat menghentikan penderitaan Yesus. Ia tidak mampu mengubah keadaan dengan kekuatannya sendiri. Namun Maria tetap berada di sana. Ia tidak melarikan diri. Ia memilih untuk hadir, menemani, dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Inilah yang membuat Injil hari ini begitu dekat dengan kehidupan kita. Ada penderitaan yang tidak bisa langsung kita selesaikan. Seorang ibu mungkin hanya mampu menemani anaknya ketika sedang mengalami masalah. Seorang ayah mungkin hanya bisa bertahan sambil mencari jalan keluar bagi keluarganya. Ada orang yang melihat orang yang dikasihi mengalami kegagalan, sakit hati, kehilangan, atau persoalan hidup, sementara dirinya sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Sering kali kita mengira bahwa mencintai berarti harus mampu memperbaiki semua masalah orang lain. Padahal, tidak selalu demikian. Kadang-kadang kasih justru berarti berani tetap tinggal ketika keadaan sulit, mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan penguatan, dan tidak meninggalkan seseorang ketika ia sedang berada di titik terendah.

Maria memberikan teladan tentang kasih seperti itu. Ia berdiri di bawah salib bukan karena ia memahami seluruh rencana Allah, melainkan karena ia percaya kepada-Nya. Bacaan pertama mengatakan bahwa Kristus sendiri belajar taat melalui penderitaan. Ketaatan Yesus bukan tanda kekalahan, melainkan jalan menuju keselamatan. Dari sini kita belajar bahwa iman bukan berarti hidup tanpa luka. Iman berarti tetap percaya kepada Tuhan ketika kita belum memahami mengapa sesuatu harus terjadi.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya, Ia berkata, “Ibu, inilah anakmu.” Lalu kepada murid itu Ia berkata, “Inilah ibumu.” Di tengah penderitaan-Nya, Yesus masih memikirkan hubungan dan kehidupan orang lain. Bahkan di salib, kasih-Nya tetap bekerja.

Saudara-saudari, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang sedang memikul salib yang berat. Jangan buru-buru memberikan nasihat yang panjang. Jangan merasa harus memiliki semua jawaban. Hadirlah dengan hati yang tulus. Dengarkan. Temani. Doakan. Sebab kadang kehadiran yang sederhana justru menjadi cara Tuhan mengatakan, “Engkau tidak sendirian.”

Santa Perawan Maria Berdukacita mengajarkan kepada kita bahwa kasih sejati tidak selalu menghilangkan penderitaan, tetapi membuat seseorang mampu melewatinya dengan pengharapan. Marilah kita belajar seperti Maria: tetap setia ketika keadaan tidak mudah, tetap lembut ketika hati terluka, dan tetap percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan dalam situasi yang belum dapat kita mengerti.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, melalui teladan Maria yang setia di bawah salib, ajarlah kami menemani mereka yang sedang menderita dengan kasih dan kesabaran. Berikan kami hati yang tidak mudah menghakimi, keberanian untuk hadir, serta iman untuk tetap percaya kepada-Mu ketika jalan hidup terasa berat. Semoga kami menjadi penghiburan bagi sesama. Amin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *