Media sosial kembali ramai oleh sebuah konten promosi yang dinilai melewati batas kepantasan. Kali ini, sorotan mengarah pada video promosi minuman beralkohol Newport yang menampilkan tantangan hafalan Surah Ad-Duha sebagai bagian dari aktivitas pemasaran di sebuah festival musik.
Konten tersebut langsung mengundang reaksi keras karena aktivitas membaca Al-Qur’an dipadukan dengan pemberian minuman beralkohol sebagai hadiah. Bagi banyak warganet, penggunaan materi keagamaan untuk kepentingan promosi produk minuman keras dianggap tidak tepat dan berpotensi menyinggung nilai kesucian Al-Qur’an.
Bermula dari Tantangan di Booth Newport
Video yang kemudian viral itu memperlihatkan seorang perempuan yang berada di area festival musik The Sounds Project. Dalam rekaman tersebut, ia terlihat mengikuti sebuah tantangan di booth Newport.
Tantangannya bukan aktivitas biasa. Perempuan tersebut diminta melafalkan Surah Ad-Duha. Setelah menyelesaikan hafalan, ia disebut memperoleh kesempatan mendapatkan minuman beralkohol secara gratis.
Situasi di sekitar booth terdengar cukup ramai. Tawa dan teriakan pengunjung terdengar setelah tantangan tersebut selesai.
Dalam video itu juga terdengar percakapan antara seorang perempuan di sekitar booth dengan peserta. Ia menanyakan minuman yang ingin dipesan setelah tantangan hafalan tersebut dilakukan.
Potongan video inilah yang kemudian menyebar luas dan menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.
Warganet Ramai-Ramai Mengecam
Berdasarkan informasi dalam materi yang beredar, video tersebut mulai mendapat perhatian luas pada Senin malam, 10 Agustus 2026.
Konten sebelumnya diketahui berasal dari akun media sosial Newport dengan nama pengguna @newport.tanpabatas. Namun, ketika kontroversi semakin membesar, akun tersebut kemudian tidak lagi dapat ditemukan atau diakses seperti sebelumnya.
Kondisi tersebut justru membuat rasa penasaran publik semakin meningkat. Warganet mempertanyakan siapa yang membuat konsep promosi tersebut, siapa yang menjalankannya di lokasi acara, dan apakah kegiatan itu benar-benar merupakan bagian dari strategi resmi perusahaan.
Tidak sedikit pengguna media sosial yang menyerukan boikot terhadap produk-produk yang disebut berada di bawah OT Grup.
Ada pula warganet yang meminta organisasi keagamaan ikut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Sebagian lainnya bahkan menyatakan siap menempuh langkah hukum apabila tidak ada penjelasan maupun pertanggungjawaban dari pihak yang dianggap terkait.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai konten promosi yang kontroversial. Penggunaan aktivitas keagamaan sebagai bagian dari pemasaran justru menjadi inti persoalan yang memicu kemarahan publik.
Akun Promosi Kini Tidak Lagi Terlihat
Di tengah derasnya kritik, akun @newport.tanpabatas yang sebelumnya dikaitkan dengan video tersebut dilaporkan sudah tidak dapat diakses.
Meski begitu, hilangnya akun tersebut belum otomatis menjawab berbagai pertanyaan yang muncul. Publik masih menunggu penjelasan mengenai siapa pihak yang berada di balik aktivitas promosi tersebut.
Sampai materi ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari Newport maupun OT Grup mengenai kontroversi video tersebut.
Belum diketahui secara pasti pula apakah konsep tantangan hafalan Surah Ad-Duha merupakan bagian dari kampanye resmi perusahaan, dibuat oleh pihak promosi di lapangan, atau muncul melalui mekanisme lain yang belum dijelaskan.
Karena itu, sejumlah informasi penting masih membutuhkan klarifikasi langsung dari pihak terkait, termasuk mengenai perancang kegiatan, mekanisme promosi, pihak pelaksana di festival, hingga proses persetujuan materi kampanye.
MUI Soroti Aspek Agama, Etika, dan Hukum
Kontroversi ini turut mendapat perhatian dari Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh.
Ia mengecam penggunaan hafalan Al-Qur’an sebagai bagian dari gimmick untuk memperoleh minuman beralkohol. Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan apabila dilihat dari aspek keagamaan, moral, etika, maupun hukum.
Asrorun juga menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas tindakan tersebut perlu memberikan pertanggungjawaban.
Pernyataan tersebut membuat polemik semakin menjadi perhatian publik. Sebab, persoalan yang awalnya muncul dari sebuah video promosi kini berkembang menjadi pembahasan lebih luas mengenai batas-batas etika dalam pemasaran.
Polemik Jadi Pengingat soal Batas Kreativitas Promosi
Strategi pemasaran memang dituntut kreatif agar mampu menarik perhatian masyarakat. Namun, kreativitas tetap memiliki batas, terutama ketika materi yang digunakan berkaitan dengan simbol, ajaran, atau aktivitas keagamaan.
Kasus Newport ini menjadi contoh bagaimana sebuah gimmick yang mungkin dirancang untuk menarik perhatian justru dapat menimbulkan persoalan besar ketika konteks penggunaannya dianggap tidak sesuai.
Kini, publik masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak Newport dan OT Grup. Penjelasan tersebut penting untuk mengetahui kronologi sebenarnya, siapa yang bertanggung jawab, serta bagaimana aktivitas promosi tersebut bisa berlangsung di lokasi acara.
Pada akhirnya, polemik ini bukan hanya soal sebuah video yang viral. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa setiap strategi promosi perlu mempertimbangkan konteks sosial, budaya, agama, serta dampaknya terhadap masyarakat sebelum benar-benar dijalankan.








