Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Sabtu, 26 September 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Perayaan Santo Kosmas dan Damianus, dengan warna liturgi Hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: Pkh 11:9-12:8
Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah.
Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu. Biarlah hatimu bergembira pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hati dan pandangan matamu. Tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!
Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena masa muda dan fajar hidup adalah kesia-siaan. Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan, ‘Tiada kesenangan bagiku di dalamnya,’ sebelum matahari dan terang,
bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan, pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan wanita-wanita penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur; sebelum pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung,
dan semua penyanyi wanita tunduk; sebelum orang menjadi takut berdiri di ketinggian, dan ketakutan ada di jalan, sebelum pohon badam berbunga,
dan belalang menyeret dirinya dengan susah payah, dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan; sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur,
dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah kesia-siaan!
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17
Ref: Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan bagi kami turun-temurun.
Engkau mengembalikan manusia kepada debu,hanya dengan berkata, “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.
Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi,seperti rumput yang bertumbuh,di waktu pagi tumbuh dan berkembang,di waktu petang lisut dan layu.
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami,hingga kami beroleh hati yang bijaksana.Kembalilah, ya Tuhan — berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu,supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat. Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas kami! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah!
Bait Pengantar Injil: 2Tim 1:10b
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.
Bacaan Injil: Lukas 9:43b-45
Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.
Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu, 26 September 2026
Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita menyadari sesuatu yang sering terlupakan: hidup ini tidak berlangsung selamanya. Pengkhotbah mengingatkan manusia untuk mengingat Penciptanya, terutama ketika masih memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan, bekerja, mengasihi, belajar, dan melakukan kebaikan. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Justru kita diajak menikmati hidup dengan kesadaran bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan.
Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang dianggap penting. Kita mengejar uang, keberhasilan, pengakuan, kenyamanan, bahkan perhatian dari orang lain. Tanpa sadar, waktu berjalan begitu cepat. Kita baru menyadari nilai keluarga ketika kebersamaan mulai berkurang. Kita baru menghargai kesehatan ketika tubuh mulai melemah. Kita baru ingin memperbaiki hubungan ketika kesempatan untuk berbicara sudah tidak seperti dahulu.
Karena itu, perkataan Pengkhotbah, “Ingatlah akan Penciptamu,” bukan sekadar nasihat untuk rajin beribadah. Mengingat Tuhan berarti menyadari siapa yang menjadi sumber kehidupan kita. Ketika Tuhan ditempatkan di dalam kehidupan, cara kita menggunakan waktu, memperlakukan orang lain, menghadapi kesulitan, dan menikmati keberhasilan pun perlahan berubah. Kita tidak lagi hidup hanya untuk memiliki, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang berguna dan penuh kasih.
Dalam Injil, para murid mendengar perkataan Yesus bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak memahami maksudnya, tetapi mereka juga tidak berani bertanya. Di sinilah kita menemukan gambaran manusia yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada saat ketika Tuhan berbicara melalui peristiwa yang tidak kita mengerti. Kita bertanya dalam hati, “Mengapa ini terjadi?” Namun jawabannya tidak selalu langsung kita dapatkan.
Iman bukan berarti memahami semua rencana Tuhan. Iman berarti tetap percaya meskipun belum memahami seluruh jalan yang sedang kita lalui. Yesus sendiri menunjukkan bahwa jalan menuju kebangkitan melewati penderitaan. Maka ketika hidup menghadirkan kegagalan, kehilangan, atau keadaan yang tidak sesuai harapan, jangan langsung menganggap Tuhan meninggalkan kita.
Saudara-saudari, mungkin ada banyak hal dalam hidup yang belum kita mengerti. Namun daripada menghabiskan tenaga untuk memaksa Tuhan memberikan semua jawaban, marilah kita belajar bertanya dengan rendah hati, “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku melalui semua ini?” Pertanyaan itu dapat mengubah cara kita memandang kehidupan.
Waktu kita terbatas. Karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada untuk mengasihi, meminta maaf, mengampuni, membantu, dan menghadirkan kebaikan. Jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai hidup dekat dengan Tuhan. Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup sungguh berarti bukan berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa dalam kita membiarkan kasih Tuhan bekerja melalui kehidupan kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarlah kami menghargai waktu dan kehidupan sebagai anugerah-Mu. Ketika kami menghadapi sesuatu yang belum kami mengerti, berikanlah iman untuk tetap percaya. Bantulah kami menggunakan kesempatan yang ada untuk mengasihi, mengampuni, menolong, dan melakukan kebaikan, sehingga hidup kami sungguh menjadi kesaksian kasih-Mu. Amin.








