Film Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita Viral setelah Pembubaran Nobar, Apa Sebenarnya Isi Dokumenternya?

Babi, Dibubarkan, Dokumenter, film, isi, nobar, Pesta, TNI, Viral
Rate this post

Jagat media sosial lagi rame banget ngebahas film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Bukan karena jumpscare atau adegan sadis, tapi gara-gara acara nonton bareng alias nobar film ini dibubarkan di sejumlah daerah. Mulai dari kampus sampai komunitas jurnalis, semuanya ikut jadi sorotan publik.

Yang bikin netizen makin penasaran, kenapa sebuah film dokumenter bisa sampai dibubarkan aparat? Emang isi filmnya seberani itu?

Read More

Nah guys, biar nggak cuma ikut heboh tanpa tahu duduk perkaranya, yuk kita bahas lengkap mulai dari isi film, kontroversi, sampai alasan kenapa nobarnya ramai dibicarakan orang.

Awalnya Dikira Film Horor, Ternyata Bahas Konflik Tanah di Papua

Kalau denger judul “Pesta Babi”, banyak orang awalnya mikir ini film horor, thriller sadis, atau cerita mistis khas pedalaman. Padahal kenyataannya jauh beda.

Film dokumenter ini justru mengangkat kisah nyata tentang masyarakat adat di Papua Selatan yang mengalami konflik akibat ekspansi proyek besar pemerintah dan perusahaan swasta.

Judul lengkap film ini adalah Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, dan latarnya berada di wilayah Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi.

Lewat dokumenter ini, penonton diajak melihat bagaimana hutan-hutan adat yang selama ini jadi sumber kehidupan masyarakat perlahan berubah jadi area perkebunan sawit, tebu, hingga proyek food estate skala besar.

Buat masyarakat adat Papua, hutan bukan cuma tempat tinggal biasa. Di sana ada sumber makanan, budaya, tradisi, bahkan identitas hidup mereka. Makanya ketika lahan mulai dibuka besar-besaran, banyak warga merasa kehilangan ruang hidup.

Kenapa Disebut “Kolonialisme Modern”?

Salah satu poin paling kuat dari film ini adalah kritik soal apa yang disebut sebagai “kolonialisme modern”.

Film tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat adat merasa tanah mereka diambil atas nama pembangunan dan investasi. Mereka merasa suara warga kecil kalah sama kepentingan proyek besar.

Di beberapa adegan juga diperlihatkan adanya pengamanan aparat dalam proyek-proyek tersebut. Nah, bagian inilah yang dianggap sensitif oleh sebagian pihak.

Film ini menampilkan simbol salib merah yang dipasang warga adat sebagai bentuk penolakan terhadap pembukaan lahan dan kerusakan hutan adat mereka.

Visual dan narasi dalam dokumenter dibuat cukup emosional, sehingga banyak penonton merasa film ini punya pesan kritik sosial dan politik yang kuat banget.

Nobar Dibubarkan di Banyak Tempat, Publik Langsung Heboh

Kontroversi makin panas setelah sejumlah acara nobar film ini dibubarkan di beberapa daerah.

Beberapa lokasi yang ramai diberitakan antara lain:

  • Universitas Mataram
  • UIN Mataram
  • Universitas Pendidikan Mandalika

Terbaru, nobar yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists juga ikut dibubarkan oleh oknum aparat TNI di Ternate, Maluku Utara.

Peristiwa ini langsung viral di media sosial. Banyak netizen mempertanyakan alasan pembubaran, sementara sebagian lainnya menilai isi film memang sensitif karena menyangkut isu tanah, aparat, dan konflik sosial di Papua.

Ada yang Bilang Kritis, Ada Juga yang Menilai Provokatif

Respons publik soal film ini benar-benar terbelah.

Sebagian orang menganggap dokumenter ini penting karena memberi ruang suara bagi masyarakat adat yang jarang terekspos media nasional.

Mereka menilai film seperti ini bisa membuka diskusi soal lingkungan, hak masyarakat adat, dan dampak proyek besar terhadap warga lokal.

Tapi di sisi lain, ada juga pihak yang menganggap isi film terlalu provokatif karena menampilkan aparat dan militer dalam konteks konflik sosial.

Beberapa pihak khawatir narasi di film dapat memicu kesalahpahaman atau memperkeruh situasi di Papua yang memang sensitif sejak lama.

Karena itulah, setiap pemutaran film ini hampir selalu memancing perdebatan panas di media sosial.

Food Estate Jadi Sorotan Besar

Salah satu isu utama yang disorot dalam film adalah proyek food estate atau lumbung pangan nasional.

Program ini sebenarnya dibuat pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Namun di lapangan, sebagian masyarakat adat mengaku terdampak karena pembukaan lahan dilakukan dalam skala sangat besar.

Film dokumenter ini mencoba menunjukkan sisi yang jarang muncul di pemberitaan mainstream, terutama tentang perubahan lingkungan dan kehidupan warga lokal setelah proyek berjalan.

Makanya, banyak penonton bilang film ini terasa “berat”, emosional, sekaligus bikin mikir panjang.

Viral Bukan Karena Sensasi, Tapi Karena Isunya Dekat dengan Realita

Fenomena viralnya Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menunjukkan kalau film dokumenter sekarang mulai banyak dilirik anak muda.

Apalagi generasi sekarang makin tertarik sama isu sosial, lingkungan, hak masyarakat adat, dan kebebasan berekspresi.

Ditambah lagi, efek pembubaran nobar justru bikin rasa penasaran publik makin besar. Banyak orang yang sebelumnya nggak tahu film ini jadi ikut mencari informasi dan pengen nonton sendiri.

Di media sosial, topik ini bahkan memicu debat panjang soal demokrasi, kritik sosial, sampai hak publik untuk berdiskusi lewat film dokumenter.

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan film horor atau sadis seperti dugaan banyak orang dari judulnya.

Dokumenter ini membahas konflik tanah adat di Papua Selatan, dampak proyek besar terhadap masyarakat lokal, serta kritik terhadap praktik yang dianggap sebagai bentuk kolonialisme modern.

Kontroversi makin besar setelah sejumlah acara nobar dibubarkan di beberapa tempat, yang akhirnya bikin film ini viral di mana-mana.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, film ini sukses bikin publik kembali ngobrolin isu Papua, lingkungan, masyarakat adat, dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *