Mengupas Arti Londo Ireng yang Diucapkan Prabowo, Dari Jejak Sejarah Kolonial hingga Makna dalam Wacana Politik

Arti, Ireng, kata, Londo, Makna, Pidato, prabowo, Sejarah Asli, Viral
Rate this post

Istilah Londo Ireng mendadak ramai diperbincangkan di media sosial dan mesin pencarian setelah diucapkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Ucapan tersebut langsung memicu rasa penasaran masyarakat. Banyak yang ingin mengetahui arti sebenarnya dari istilah itu, apakah merupakan istilah baru dalam politik atau justru memiliki akar sejarah yang panjang.

Read More

Dalam pidatonya, Prabowo lebih dulu menyinggung pemberitaan media yang menurutnya masih sering menonjolkan sisi negatif pemerintah. Ia mencontohkan, meskipun pemerintah telah melakukan renovasi terhadap puluhan ribu sekolah, masih ada pemberitaan yang lebih fokus mencari sekolah yang belum diperbaiki.

Meski begitu, Prabowo menegaskan pemerintah tetap membuka ruang kritik sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.

Namun, ia juga mengatakan ada pihak-pihak tertentu yang menurut penilaiannya lebih mengutamakan kepentingan asing dibanding kepentingan bangsa sendiri. Dalam konteks itulah Prabowo menyebut istilah Londo Ireng, yang kemudian dikaitkannya sebagai bentuk sindiran terhadap kelompok yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan nasional.

Apa Arti Londo Ireng?

Secara bahasa, Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa.

  • Londo berarti orang Belanda atau bangsa Eropa pada masa kolonial.
  • Ireng berarti hitam.

Jika digabungkan, arti harfiahnya adalah “Belanda Hitam”. Dalam literatur sejarah kolonial Belanda, kelompok ini dikenal dengan nama Zwarte Hollanders atau Black Dutchmen.

Meski kini istilah tersebut sering muncul dalam perbincangan politik, makna awalnya sama sekali tidak berkaitan dengan profesi wartawan, pengamat politik, akademisi, maupun organisasi masyarakat sipil.

Sejarah Londo Ireng pada Masa Kolonial

Dalam catatan sejarah, Londo Ireng merujuk pada prajurit asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk memperkuat Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19.

Rekrutmen dilakukan sekitar tahun 1831 hingga 1872, terutama dari wilayah Elmina di Pantai Emas yang sekarang masuk wilayah Ghana.

Saat itu Belanda mengalami kekurangan personel militer asal Eropa setelah berbagai konflik besar, termasuk Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830.

Diperkirakan sekitar 3.000 prajurit Afrika direkrut dan kemudian dikirim ke Hindia Belanda.

Setibanya di Nusantara, mereka mengenakan seragam militer Belanda, menggunakan nama-nama Belanda, serta ditempatkan dalam berbagai operasi militer di sejumlah wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Timor hingga Aceh.

Sebagian besar kembali ke Afrika setelah masa tugas berakhir. Namun tidak sedikit yang memilih menetap di Hindia Belanda, menikah dengan penduduk lokal, dan membentuk komunitas keturunan Indo-Afrika di sejumlah kota garnisun seperti Batavia (Jakarta), Semarang, Salatiga, Surakarta, dan Purworejo.

Makna Londo Ireng dalam Pidato Prabowo

Dalam pidato Presiden Prabowo, istilah Londo Ireng digunakan sebagai kiasan politik, bukan merujuk kepada kelompok prajurit Afrika seperti dalam sejarah kolonial.

Istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan pihak-pihak yang menurut pandangannya lebih membela atau memperjuangkan kepentingan asing daripada kepentingan bangsa Indonesia.

Karena itu, penyebutan profesi seperti wartawan, jurnalis, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pidato tersebut tidak dapat diartikan sebagai penilaian terhadap seluruh orang yang bekerja di bidang tersebut.

Konteks pidato menunjukkan bahwa kritik Prabowo diarahkan kepada kelompok tertentu yang menurutnya membangun narasi pesimistis atau memiliki keberpihakan kepada kepentingan luar negeri.

Dalam kajian sejarah maupun politik, istilah Londo Ireng memiliki muatan yang cukup kuat karena berkaitan dengan masa kolonial dan isu loyalitas terhadap bangsa.

Karena itu, penggunaannya dalam ruang publik perlu dipahami berdasarkan konteks pembicaraan. Kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang sah dalam sistem demokrasi dan tidak otomatis menunjukkan seseorang berpihak kepada kepentingan asing.

Begitu pula tuduhan mengenai adanya kepentingan luar negeri atau pendanaan tertentu terhadap individu maupun kelompok tetap memerlukan fakta, bukti, dan proses pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata didasarkan pada profesi atau perbedaan pandangan politik.

Dengan memahami sejarah sekaligus konteks penggunaannya, masyarakat dapat melihat istilah Londo Ireng secara lebih utuh, baik sebagai bagian dari sejarah kolonial Indonesia maupun sebagai metafora yang digunakan dalam dinamika politik masa kini.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *