Kabar baik buat warga Jakarta, khususnya keluarga kurang mampu. Kementerian Sosial (Kemensos) resmi menambah kuota 1.000 peserta didik baru untuk Program Sekolah Rakyat di DKI Jakarta pada tahun ajaran 2026. Penambahan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan gratis sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul saat menghadiri kegiatan open house orang tua calon siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 di Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026).
Menurut Gus Ipul, tambahan kuota tersebut diprioritaskan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera, termasuk mereka yang selama ini hidup di jalanan dan belum mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Jadi ini yang ada di sekolah rakyat, Pak Gubernur. Insyaallah tahun ini Presiden ingin bekerja sama dengan kita semua untuk khusus DKI Jakarta. Ada penambahan seribu siswa khusus DKI Jakarta,” kata Safullah, Jumat, 3 Juli 2026.
Program Sekolah Rakyat memang dirancang sebagai solusi pendidikan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi. Pemerintah ingin memastikan kondisi ekonomi keluarga tidak lagi menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan formal yang berkualitas.
Saat ini, setiap Sekolah Rakyat memiliki kapasitas sekitar 270 siswa setiap tahun. Jumlah tersebut dibagi rata untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, masing-masing sebanyak 90 peserta didik. Secara nasional, Sekolah Rakyat telah menampung sekitar 45 ribu siswa.
Ke depan, pemerintah menargetkan jumlah penerima manfaat terus meningkat secara bertahap.
“Tahun depan lebih dari 100 ribu. Tahun 2028 mendekati 200 ribu. Seterusnya sampai 2029 insya Allah akan ada 500 ribu siswa sekolah rakyat. Itu semua diselenggarakan kerjasama antara pusat dengan daerah,” tuturnya.
Gus Ipul juga mengungkapkan bahwa banyak siswa yang diterima berasal dari kondisi kehidupan yang cukup memprihatinkan. Sebagian bahkan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan setiap hari sebelum bergabung dalam program tersebut.
“Bahkan ada salah satu siswa sekolah rakyat di sini pak Pramono. Ini ada kepala sekolahnya yang bisa makan dua kali saja sudah bersyukur. Seringkali mereka makan hanya sekali sehari. Tapi dengan program ini Alhamdulillah bisa dijangkau dan bisa dibantu untuk memiliki masa depan yang lebih baik,” ucapnya.
Tak hanya memberikan pendidikan gratis, Sekolah Rakyat juga menyiapkan jalur masa depan bagi para siswanya. Lulusan SD diarahkan melanjutkan ke SMP, sedangkan lulusan SMP yang memiliki prestasi tinggi bisa memilih melanjutkan ke Sekolah Garuda atau tetap meneruskan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Sementara lulusan SMA disiapkan agar mampu melanjutkan ke perguruan tinggi maupun langsung memasuki dunia kerja sebagai tenaga terampil. Untuk mendukung hal tersebut, siswa diberi kesempatan mengembangkan kemampuan bahasa asing sesuai minat masing-masing.
“Maka itu di sekolah rakyat bagi yang berminat untuk belajar bahasa asing akan dibimbing sampai Tuntas. Yang bahasa Inggris diantarkan untuk bisa belajar bahasa Inggris, yang bahasa Arab begitu, bahasa Mandarin begitu, dan juga ada yang bahasa Jerman, bahasa-bahasa yang lainnya. Sesuai dengan minat bakat adik-adik sekalian,” ucapnya.
Menariknya lagi, proses penerimaan siswa tidak menggunakan tes akademik sebagai syarat utama. Hal ini dilakukan karena kemampuan calon peserta didik sangat beragam, mulai dari yang belum lancar membaca hingga yang sudah menguasai bahasa asing secara mandiri.
Sebagai gantinya, Kemensos memanfaatkan teknologi melalui tes DNA Talent berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan potensi, bakat, dan minat setiap siswa. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar penyusunan metode belajar yang lebih sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik.
Meski menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, Sekolah Rakyat tetap merupakan sekolah formal yang menggunakan kurikulum nasional dan menerbitkan ijazah resmi. Program ini juga menerapkan sistem multi entry dan multi exit, sehingga siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat.
“SD ada 329 yang lulus, SMP 113 orang, SMA 119 orang. Padahal mereka baru sekolah satu tahun karena memang kemampuan mereka memungkinkan untuk percepatan,” ujarnya.
Selain pembelajaran di kelas, seluruh siswa memperoleh berbagai fasilitas penunjang, mulai dari tempat tinggal di asrama, makan tiga kali sehari, dua kali makanan ringan, perlengkapan sekolah lengkap, hingga delapan jenis seragam. Kegiatan belajar juga memanfaatkan teknologi digital melalui laptop, learning management system, dan smartboard agar siswa siap menghadapi perkembangan dunia digital.
“Makannya tiga kali sehari, snack dua kali sehari, mendapat seragam sekolah dan perlengkapan sekolah lengkap. Pembelajarannya menggunakan learning management system, siswanya memakai laptop dan gurunya menggunakan smartboard. Karena mereka adalah digital native, sejak awal diperkenalkan bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik dan tidak menjadi korban teknologi,” kata Gus Ipul.







