Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Rabu, 29 Juli 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Hari Rabu Pekan Biasa XVII, dengan Warna Liturgi Putih.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: 1Yoh. 4:7-16
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 34:2-3,4-5,6-7, 8-9,10-11
Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!
Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.
Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.
Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!
Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.
Marilah, anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!
Bacaan Injil: Lukas 10:38-42
Sekali peristiwa, banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudara mereka.
Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
Maka kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”
Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.”
Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”
Jawab Yesus, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Jawab Marta, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Rabu, 29 Juli 2026
“Percaya kepada Kristus, Tetap Hidup dalam Kasih dan Pengharapan”
(Berdasarkan Bacaan Pertama 1 Yohanes 4:7-16 dan Injil Yohanes 11:19-27)
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini Gereja mengenangkan Santa Marta, seorang perempuan yang dikenal karena imannya kepada Yesus. Injil membawa kita masuk ke dalam suasana duka yang sangat manusiawi. Marta baru saja kehilangan saudaranya, Lazarus. Kesedihan itu nyata, air mata itu sungguh ada, dan rasa kehilangan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Namun, di tengah luka yang masih segar, Marta tetap melangkah menemui Yesus. Ia datang bukan karena semua pertanyaannya sudah terjawab, melainkan karena ia tahu hanya kepada Yesuslah ia dapat membawa seluruh isi hatinya.
Marta mengungkapkan kalimat yang mungkin juga pernah muncul dalam hati kita, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini.” Kalimat itu bukan sekadar keluhan, tetapi jeritan seseorang yang sedang berusaha memahami mengapa Tuhan seolah datang terlambat. Bukankah dalam hidup ini kita pun pernah mengalami hal yang sama? Kita sudah berdoa, sudah berharap, tetapi keadaan justru berjalan di luar keinginan kita. Orang yang kita cintai tetap pergi, pekerjaan tidak kunjung membaik, hubungan yang diperjuangkan tetap retak, atau impian yang telah lama dibangun justru runtuh.
Menariknya, Yesus tidak langsung menjelaskan alasan mengapa Lazarus meninggal. Ia juga tidak memberikan penjelasan panjang tentang penderitaan. Sebaliknya, Yesus mengarahkan Marta kepada pribadi-Nya sendiri. “Akulah kebangkitan dan hidup.” Artinya, harapan orang beriman bukan pertama-tama terletak pada berubahnya keadaan, melainkan pada kehadiran Kristus yang sanggup memberi kehidupan bahkan ketika manusia merasa semuanya telah berakhir.
Sering kali kita mengukur penyertaan Tuhan dari hasil yang kita lihat. Jika masalah selesai, kita merasa Tuhan dekat. Jika doa belum terkabul, kita mulai bertanya-tanya apakah Tuhan masih mendengarkan. Padahal iman mengajak kita melihat lebih dalam. Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, meskipun cara-Nya sering melampaui pengertian kita. Ada kalanya Tuhan tidak segera mengangkat salib yang kita pikul, tetapi Ia memberikan kekuatan agar kita mampu memikulnya dengan damai dan tidak kehilangan harapan.
Bacaan Pertama dari Surat Pertama Yohanes melengkapi pesan Injil hari ini dengan sangat indah. Rasul Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Kalimat ini bukan hanya sebuah ajaran, melainkan identitas Allah sendiri. Kasih Allah bukan sekadar kata-kata yang menghibur, tetapi nyata melalui Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan manusia. Bahkan ketika manusia berdosa, Allah lebih dahulu mengambil langkah untuk mengasihi dan memulihkan.
Karena itu, ukuran kedewasaan iman bukan hanya rajin beribadah atau banyak mengetahui ajaran Gereja, tetapi apakah kasih Allah benar-benar terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain. Seseorang dapat mengucapkan doa yang indah, tetapi bila masih mudah membenci, memfitnah, menghakimi, atau menutup hati terhadap sesama, Sabda Tuhan belum sungguh mengubah hidupnya. Kasih yang berasal dari Allah selalu mendorong kita untuk menjadi pembawa damai, memberi pengampunan, dan hadir bagi mereka yang sedang terluka.
Marta akhirnya memberikan jawaban yang menjadi salah satu pengakuan iman terindah dalam Injil. Ia berkata, “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah.” Pengakuan itu lahir bukan ketika semua masalah telah selesai, melainkan ketika ia masih berada dalam suasana duka. Di sinilah kita belajar bahwa iman sejati tidak menunggu semuanya menjadi baik terlebih dahulu. Iman justru bertumbuh ketika kita tetap memilih percaya di tengah ketidakpastian.
Saudara-saudari terkasih, dunia saat ini menawarkan banyak alasan untuk cemas, takut, dan kehilangan harapan. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk tetap berpegang pada Kristus, Sang Kebangkitan dan Hidup. Ketika hati dipenuhi kasih Allah, kita akan memiliki keberanian menghadapi kesulitan tanpa kehilangan damai. Dan ketika kita percaya kepada Yesus, tidak ada penderitaan yang mampu memisahkan kita dari kasih-Nya.
Semoga seperti Santa Marta, kita berani datang kepada Yesus dengan segala pergumulan hidup, tetap percaya meskipun belum memahami rencana-Nya, serta membiarkan kasih Allah mengubah hati kita agar menjadi sumber penghiburan dan harapan bagi siapa pun yang kita jumpai.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kuatkan imanku saat menghadapi kehilangan, kekecewaan, dan ketidakpastian. Ajarlah aku tetap percaya kepada-Mu serta menghidupi kasih-Mu melalui perkataan dan tindakan. Semoga kehadiran-Mu memenuhi hatiku dengan damai, sehingga aku mampu menguatkan sesama dan berjalan setia mengikuti kehendak-Mu. Amin.








