Bacaan Injil Katolik Hari Ini Selasa, 21 Juli 2026 Lengkap Renungan Harian Injil, Peringatan St. Laurensius dr Brindisi

bacaan, ekaristi, Harian, homili, injil, Katolik, misa, Perayaan, renungan
Rate this post

Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.

Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.

Read More

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Selasa, 21 Juli 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Hari Biasa Pekan XVI, Peringatan St. Laurensius dr Brindisi, dengan warna liturgi hijau.

Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15.18-20

Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.

Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!

Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?

Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.

Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:2-4.5-6.7-8

  • Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala.
  • Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?
  • Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!
  • Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?

Bacaan Injil: Matius 12:46-50

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.

Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?”

Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Selasa, 21 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih,

Sering kali manusia hidup dengan beban yang tidak terlihat. Ada penyesalan atas masa lalu, luka karena kegagalan, rasa bersalah atas keputusan yang keliru, atau kekecewaan terhadap diri sendiri. Tidak sedikit orang yang merasa dosanya terlalu besar sehingga menganggap Tuhan pasti telah menjauh darinya. Namun Bacaan Pertama hari ini justru memperlihatkan wajah Allah yang sama sekali berbeda dari gambaran manusia. Nabi Mikha berseru dengan penuh kekaguman, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?” Allah tidak menikmati menghukum manusia. Hati-Nya lebih condong kepada belas kasih daripada murka. Ia bahkan digambarkan melemparkan segala dosa umat-Nya ke dalam tubir laut, sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak terus-menerus mengungkit kesalahan orang yang sungguh bertobat.

Kasih Allah selalu membuka kesempatan baru. Ia tidak melihat manusia hanya dari masa lalunya, tetapi dari kemungkinan indah yang dapat terjadi ketika seseorang mau kembali kepada-Nya. Inilah harapan yang selalu hidup bagi setiap orang beriman. Tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan oleh Tuhan. Tidak ada hati yang terlalu keras untuk disentuh oleh kasih-Nya. Yang Tuhan kehendaki hanyalah kerendahan hati untuk datang kepada-Nya dengan jujur.

Sabda ini menemukan kepenuhannya dalam Injil hari ini. Ketika Yesus diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya datang mencari-Nya, jawaban-Nya terdengar mengejutkan. Namun Yesus sama sekali tidak merendahkan Bunda Maria ataupun keluarga-Nya. Justru Ia sedang mengajarkan sebuah kebenaran yang sangat mendalam. Ikatan yang paling kuat di hadapan Allah bukanlah hubungan darah, melainkan hubungan hati yang diwujudkan dalam ketaatan kepada kehendak Bapa. Karena itu Yesus berkata bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di surga, dialah saudara, saudari, bahkan ibu-Nya.

Perkataan Yesus mengajak kita melihat bahwa menjadi orang Katolik bukan sekadar soal identitas sejak lahir, tradisi keluarga, atau rutinitas datang ke gereja. Semua itu memang penting, tetapi belum cukup. Menjadi keluarga Kristus berarti membiarkan hidup kita dibentuk oleh kehendak Tuhan. Iman tidak berhenti pada doa yang diucapkan, melainkan tampak dalam cara kita memperlakukan sesama, mengambil keputusan, bekerja dengan jujur, mengampuni orang yang melukai kita, dan tetap memilih kebenaran ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan.

Di zaman sekarang, banyak orang ingin dekat dengan Tuhan tetapi enggan mengubah cara hidupnya. Kita mudah meminta berkat, tetapi sulit meninggalkan kebiasaan yang melukai sesama. Kita berharap Tuhan mengampuni, tetapi kita sendiri masih menyimpan dendam bertahun-tahun. Kita ingin disebut pengikut Kristus, tetapi perkataan kita masih sering melukai orang lain. Injil hari ini mengingatkan bahwa kedekatan dengan Yesus bukan diukur dari seberapa sering kita menyebut nama-Nya, melainkan dari kesediaan kita melakukan kehendak-Nya.

Melakukan kehendak Tuhan bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Justru sering kali kehendak Tuhan mengajak kita memilih jalan yang tidak mudah. Mengakui kesalahan membutuhkan kerendahan hati. Mengampuni membutuhkan keberanian. Bersikap jujur kadang membuat kita kehilangan keuntungan. Tetap setia dalam keluarga memerlukan pengorbanan. Namun di situlah kita sedang menunjukkan bahwa Kristus sungguh hidup dalam diri kita.

Bacaan Pertama dan Injil hari ini saling melengkapi dengan indah. Allah yang penuh belas kasih selalu membuka pintu pengampunan, sementara Yesus mengundang setiap orang yang telah menerima belas kasih itu untuk hidup sebagai anggota keluarga Allah melalui ketaatan kepada kehendak-Nya. Pengampunan bukanlah akhir perjalanan iman, melainkan awal dari hidup yang baru. Tuhan tidak hanya menghapus dosa kita, tetapi juga memanggil kita menjadi pribadi yang semakin menyerupai Kristus.

Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah hidup kita sudah mencerminkan kehendak Tuhan di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di tengah masyarakat, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat? Sebab menjadi keluarga Yesus bukanlah sebuah gelar, melainkan sebuah cara hidup. Dan ketika kita sungguh berusaha melakukan kehendak-Nya, kita akan mengalami bahwa kasih Allah yang mengampuni juga menjadi kekuatan yang mengubah hidup kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah kami menerima belas kasih-Mu dengan hati yang rendah dan melaksanakan kehendak-Mu dalam setiap pilihan hidup. Mampukan kami mengampuni, hidup jujur, mengasihi sesama, serta menjadi saksi kasih-Mu di mana pun kami berada. Semoga hidup kami sungguh mencerminkan sebagai keluarga-Mu. Amin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *