Kabar terbaru soal bantuan sosial (bansos) datang dari Kementerian Sosial (Kemensos). Hingga Juni 2026, proses penyaluran berbagai program bantuan pemerintah terus menunjukkan progres yang cukup signifikan. Dua program andalan, yakni Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako, kini sudah menjangkau jutaan keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul mengungkapkan bahwa realisasi penyaluran bansos terus bergerak positif. Laporan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI pada Rabu (10/6/2026).
Menurut Gus Ipul, penyaluran PKH saat ini hampir mencapai target nasional. Program yang ditujukan untuk membantu keluarga kurang mampu agar dapat memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ini telah menjangkau jutaan penerima.
“Progres penyaluran bansos per Juni tahun 2026. Untuk PKH 9,4 juta KPM atau 94 persen senilai Rp 7,13 triliun. Sembako 15,9 juta KPM atau 87 persen senilai Rp 9,54 triliun,” ujar Saifullah dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Rabu (10/6/2026).
Data tersebut menunjukkan bahwa dari total target penerima manfaat, sebagian besar sudah menerima bantuan yang menjadi hak mereka. Nilai anggaran yang telah tersalurkan juga mencapai triliunan rupiah, menandakan komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan dan berpenghasilan rendah.
Tak hanya PKH dan bantuan sembako, Kemensos juga melaporkan perkembangan berbagai program perlindungan sosial lainnya. Bantuan jaminan hidup misalnya, telah disalurkan kepada 273.911 jiwa dengan total anggaran mencapai Rp 225,20 miliar. Program ini menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sementara itu, bantuan penguatan sosial ekonomi juga terus berjalan. Hingga saat ini, program tersebut telah diberikan kepada 75.065 kepala keluarga (KK) dengan nilai bantuan mencapai Rp 37,33 miliar. Program ini bertujuan membantu keluarga agar memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik dan tidak terus bergantung pada bantuan sosial jangka panjang.
Di sisi lain, Kemensos juga telah menyalurkan santunan ahli waris kepada 1.140 penerima dengan total anggaran sebesar Rp 17,10 miliar. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk perhatian negara kepada keluarga yang mengalami musibah kehilangan anggota keluarga.
Selain memaparkan progres bansos, Gus Ipul juga menjelaskan perkembangan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi). Program ini menyasar berbagai kelompok yang membutuhkan pendampingan sosial, mulai dari anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, hingga kelompok rentan lainnya.
“Atensi total realisasi 42,58 persen atau 135,7 miliar melayani anak, lansia, disabilitas, napza, orang dengan HIV/AIDS, dan kelompok rentan,” ujar Saifullah.
Realisasi program Atensi sendiri telah mencapai 42,58 persen atau setara Rp 135,7 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan sosial masih terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan perlindungan dan pendampingan.
Kinerja positif juga terlihat pada Program Komunitas Adat Terpencil (KAT). Hingga Juni 2026, program tersebut telah menjangkau 3.097 kepala keluarga atau bahkan melampaui target yang ditetapkan, yakni mencapai 109,96 persen. Sementara realisasi anggarannya telah mencapai 78,61 persen.
Adapun Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) telah diberikan kepada 4.796 keluarga penerima manfaat. Jumlah tersebut setara dengan 31,97 persen dari target yang telah ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
Meski sejumlah program menunjukkan progres yang cukup baik, Kemensos masih menunggu penyelesaian proses administrasi terkait anggaran tambahan. Dalam rapat tersebut, Gus Ipul menyampaikan bahwa penetapan Surat Pengesahan Revisi Anggaran (SPRA) tahap III senilai Rp 987,9 miliar hingga kini masih dalam proses.
Dengan capaian penyaluran yang terus meningkat, pemerintah berharap berbagai program bantuan sosial dapat semakin tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Ke depan, optimalisasi data penerima dan percepatan distribusi bantuan menjadi fokus penting agar manfaat bansos bisa dirasakan secara lebih merata di seluruh daerah.








