ChatGPT Ditinggal Sebagian Pengguna Gara Gara Performa Dipertanyakan dan Keterkaitan OpenAI dengan Trump

Anjas Nugie
Rate this post

Lgi heboh banget nih di jagat maya. Tiba-tiba muncul gerakan buat stop langganan ChatGPT. Iya, chatbot yang biasanya jadi andalan ngerjain tugas, coding, sampe curhat itu. Kok bisa sih orang-orang pada ngajak cabut? Nih gue rangkumin biar lo nggak kudet. Awalnya Cuma Kesel, Eh Jadi Gerakan Beneran.

Ceritanya bermula dari seorang software developer asal Singapura, namanya Alfred Stephen. Dia langganan ChatGPT Plus yang 20 dolar per bulan sejak September lalu. Awalnya sih berharap bisa bantu kerjaan, terutama soal coding.

Tapi lama-lama doi ngerasa frustrasi. Katanya, jawaban ChatGPT buat ngoding suka muter-muter, kepanjangan, dan nggak langsung to the point. Dari situ mulai muncul rasa kecewa.

Tapi ternyata bukan cuma soal performa chatbot aja yang bikin dia naik darah.

Bukan Sekadar Soal Coding

Stephen kemudian nyorot hubungan antara OpenAI (perusahaan pembuat ChatGPT) dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Beberapa hal yang jadi sorotan antara lain:

  • Greg Brockman, Presiden OpenAI, disebut pernah menyumbang dana ke Trump lewat PAC MAGA Inc saat pemilu 2024.
  • Ada juga kabar soal penggunaan teknologi ChatGPT-4 untuk mendukung alat penyaringan resume milik Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE).

Menurut Stephen, donasi itu jadi “pemicu terakhir” yang bikin dia mutusin buat batalin langganan.

Bahkan waktu isi survei pembatalan, dia nulis alasan yang cukup keras: nggak mau mendukung “rezim fasis”.

Makin Panas Gara-Gara Insiden

Situasi makin sensitif setelah ada insiden penembakan oleh agen lembaga setempat di Minneapolis pada Januari lalu yang menewaskan dua orang. Peristiwa itu ikut bikin suasana makin panas dan bikin kritik ke pemerintah AS makin kencang — dan efeknya, OpenAI juga ikut keseret.

QuitGPT, Gerakan yang Nggak Kaleng-Kaleng

Gerakan ini dikasih nama QuitGPT.

Nggak cuma omdo, ternyata responsnya lumayan gede juga:

  • Klaimnya, sekitar 17 ribu orang udah daftar di situs kampanye mereka.
  • Postingan soal QuitGPT di Instagram ditonton sampai 36 juta kali.
  • Dapet 1,3 juta likes.

Lumayan bikin heboh lah ya.

QuitGPT bukan satu-satunya gerakan yang ngajak orang cabut dari ChatGPT atau OpenAI.

Di media sosial, banyak juga yang:

  • Ngeluh soal performa GPT versi terbaru.
  • Ngebahas meme soal chatbot yang dianggap “terlalu menjilat”.
  • Ngajak pembatalan massal di San Francisco.
  • Bahkan ada sindiran kayak “pemakaman GPT-4o”.
  • Dan tentu aja, terus ngait-ngaitin OpenAI sama pemerintahan Trump.

Intinya? Isunya makin melebar, bukan cuma soal teknis tapi udah masuk ke ranah politik dan etika.

Kalau dilihat-lihat, awalnya sih cuma soal kualitas layanan. Tapi lama-lama berubah jadi isu yang lebih gede: soal nilai, posisi politik, dan keterlibatan perusahaan teknologi dalam pemerintahan.

Sebagian orang mungkin biasa aja dan tetap pakai ChatGPT seperti biasa. Tapi sebagian lain merasa perlu ambil sikap.

Namanya juga era digital, bro. Apa pun bisa viral dalam hitungan jam.

Nah sekarang pertanyaannya: menurut lo ini cuma drama internet sesaat, atau bakal beneran ngaruh ke masa depan ChatGPT?

Yang jelas, dunia teknologi emang nggak pernah lepas dari perubahan yang terus update. 🍿

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *