Dunia pasar modal lagi rame banget, dan kali ini bukan karena cuan instan. Justru sebaliknya. Saham-saham yang dulu sering dipuja karena naik cepet alias “saham gorengan”, satu per satu mulai keok. Yang dulu katanya “to the moon”, sekarang malah nyungsep ke ARB.
Tahun lalu, saham fundamental sempat kayak anak tiri—kurang dilirik, kalah pamor sama saham mini yang tiap hari viral di medsos saham. Tapi sekarang ceritanya kebalik. Begitu kasus hukum bermunculan, pasar langsung sadar: oh, ternyata balik ke fundamental itu bukan wacana doang.
Kasus IPO PIPA: Awal Mula Drama Saham Gorengan
Salah satu yang bikin pasar auto panas adalah kasus IPO PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA). IPO ini sekarang lagi diselidiki Dittipideksus Bareskrim Polri karena diduga ada rekayasa dari awal.
Ceritanya, PIPA pakai jasa konsultan PT MBP, yang ternyata dimiliki oleh oknum pegawai Bursa Efek Indonesia sendiri. Plot twist? Iya. Oknum tersebut sekarang sudah berstatus terpidana.
Fakta dari penyidikan juga bikin kaget:
👉 Secara aset, PIPA sebenernya nggak layak IPO
👉 Tapi proses IPO tetap lanjut
👉 Dana publik yang berhasil dihimpun: sekitar Rp97 miliar
Dalam pengembangan kasus, polisi menetapkan tiga tersangka baru, termasuk eks staf BEI, penasihat keuangan, dan manajer proyek IPO PIPA.
Belum selesai di situ, kantor Shinhan Sekuritas juga ikut digeledah, karena berperan sebagai penjamin emisi (underwriter) IPO PIPA pada April 2023. Fokus penggeledahan? Nyari alat bukti buat ngelanjutin penyidikan.
MINA & PADI: Dugaan Insider Trading, Saham Langsung Rontok
Belum reda drama PIPA, muncul lagi kasus dugaan insider trading dan perdagangan semu yang nyeret nama:
- PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI)
- PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)
Efeknya langsung kerasa. Saham MINA dan PADI amblas sampai Auto Reject Bawah (ARB) di perdagangan Rabu (4/2/2026).
Dalam kasus ini, polisi menetapkan tiga tersangka, termasuk Direktur Utama MPAM, pemegang saham utama, dan komisaris MPAM. Lengkap sudah paketnya: internal, relasi, dan kepentingan saling nyambung.
Wake Up Call: Saatnya Investor Balik ke Jalan yang Waras
Dari semua kejadian ini, satu pelajaran besar yang nggak bisa di-skip:
cuan cepat tanpa dasar yang jelas itu rawan banget jadi jebakan.
Sekarang pasar mulai sadar, narasi doang nggak cukup. Fundamental balik jadi senjata utama.
Biar Nggak Kejebak Saham Gorengan, Ini PR Kita Bareng-Bareng
1. Jangan Gampang FOMO
Saham mini memang sering keliatan seksi. Naik ratusan persen, katanya bisa jadi multi bagger. Tapi pertanyaannya:
📉 Naiknya karena kinerja, atau cuma digoreng?
Sebelum beli, tanya ke diri sendiri:
- Naiknya karena apa?
- Turunnya karena apa?
- Ada bisnis beneran atau cuma narasi abu-abu?
Kalau cuma isu kayak “katanya masuk indeks” tapi laba, valuasi, dan prospek nggak jelas, itu alarm bahaya 🚨
Dan penting juga:
👉 Lo beli buat investasi atau trading?
Kalau trading, stop loss itu wajib, bukan opsional.
2. Fundamental Tetap Nomor Satu
Cari saham dengan:
- Cash flow positif
- Laba bertumbuh
- Bisnis jelas dan transparan
- Laporan keuangan rapi + keterbukaan informasi rutin
Saham fundamental kuat itu ibarat helm di jalanan macet—nggak bikin kebal, tapi jauh lebih aman. Biasanya juga lebih cepet bangkit pas market lagi berdarah-darah.
3. Money Management Jangan Asal
Semakin nggak jelas sahamnya, semakin kecil porsinya. Simple.
Karena pas market panik, IHSG trading halt, saham ARB berjamaah—yang nyangkut paling menderita. Setidaknya kalau porsinya kecil, portofolio lo nggak langsung KO.
Era saham gorengan pelan-pelan mulai ditinggalin. Pasar lagi belajar dewasa.
Bukan berarti cari cuan cepat itu salah, tapi tanpa fundamental, risikonya nggak main-main.
Sekarang waktunya balik ke basics:
📊 laporan keuangan
📈 prospek bisnis
🧠 logika, bukan cuma rumor
Karena di market, yang sabar dan rasional biasanya bertahan paling lama.
