Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Senin, 5 Oktober 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Perayaan Santa Faustina Kowalska, dengan warna liturgi Hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: Gal 1:6-12
“Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia.”
Saudara-saudara, aku heran, bahwa kalian begitu cepat berbalik dari Allah, yang telah memanggil kalian oleh kasih karunia Kristus, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil; hanya ada orang-orang yang mengacaukan kalian dan yang bermaksud memutarbalikkan Injil Kristus.
Tetapi seandainya kami sendiri atau pun seorang malaikat dari surga mewartakan kepada kalian suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi, “Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia.”
Jadi bagaimana sekarang? Adakah aku mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah aku mencoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencari perkenanan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku menerimanya bukan dari manusia, dan bukan pula manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2.7-10c
Refren : Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya.
Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan di tengah jemaat. Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh; perintah-Nya lestari untuk selama-lamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.
Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya! Dia akan disanjung sepanjang masa.
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952.
Refren : Alleluya, Alleluya, Alleluya.
Ayat. Yoh 13:34
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.
Bacaan Injil: Lukas 10:25-37
“Siapakah sesamaku?”
Pada suatu ketika, seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus, “Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Kata Yesus kepadanya, “Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati.
Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih.
Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.’ Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.” Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, dan lakukanlah demikian!”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin, 5 Oktober 2026
Saudara-saudari terkasih,
Sabda Tuhan hari ini membawa kita pada sebuah pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam: “Siapakah sesamaku?” Ahli Taurat bertanya kepada Yesus seolah-olah ingin mengetahui batas kasih. Siapa yang harus saya kasihi? Siapa yang termasuk sesama? Dan mungkin tanpa kita sadari, pertanyaan yang sama sering muncul dalam kehidupan kita.
Kita mudah mengasihi orang yang baik kepada kita, yang memahami kita, yang menghargai kita, atau yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Tetapi Yesus justru menghadirkan seorang Samaria sebagai teladan. Ia berhenti ketika orang lain memilih lewat. Ia melihat penderitaan, lalu membiarkan hatinya tergerak. Ia tidak bertanya terlebih dahulu siapa orang itu, dari kelompok mana, atau apakah pertolongannya akan dibalas.
Di sinilah kasih Kristiani menjadi nyata. Kasih bukan hanya perasaan iba. Kasih membutuhkan keberanian untuk berhenti, mendekat, menyentuh luka, dan melakukan sesuatu yang nyata.
Bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia menegaskan bahwa Injil Kristus tidak boleh diputarbalikkan hanya demi menyenangkan manusia. Paulus bahkan bertanya, apakah dirinya mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah. Pertanyaan ini juga penting bagi kita. Kadang kita tahu apa yang benar, tetapi memilih diam karena takut tidak disukai. Kita mengetahui seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi berpura-pura tidak melihat karena merasa itu bukan urusan kita.
Yesus hari ini mengajak kita keluar dari sikap seperti itu. Menjadi murid Kristus berarti berani membiarkan kasih mengalahkan kenyamanan pribadi. Bisa jadi sesama yang membutuhkan pertolongan adalah anggota keluarga yang sedang terluka, tetangga yang kesepian, teman yang sedang terpuruk, atau seseorang yang selama ini justru sulit kita sukai.
Menariknya, Yesus tidak mengakhiri kisah itu dengan meminta kita mencari siapa sesama kita. Ia berkata, “Pergilah, dan lakukanlah demikian!” Artinya, pertanyaan terbesar bukan lagi “siapa yang pantas saya kasihi?”, melainkan “kepada siapa saya dapat menjadi tanda kasih Tuhan?”
Semoga iman kita tidak berhenti pada kata-kata, doa, dan pengetahuan tentang Allah. Semoga iman itu terlihat dalam tindakan sederhana: menolong tanpa merendahkan, mendengarkan tanpa menghakimi, mengampuni dengan tulus, dan hadir ketika seseorang membutuhkan kita. Sebab kasih kepada Allah menjadi nyata ketika kehidupan kita sungguh menghadirkan belas kasih kepada sesama.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, bukalah hati kami agar peka melihat penderitaan sesama. Jauhkan kami dari sikap acuh dan egois. Berilah keberanian untuk berhenti, menolong, mengampuni, dan menghadirkan kasih tanpa memilih-milih. Ajarlah kami menjadi perpanjangan tangan belas kasih-Mu, sehingga melalui hidup kami, orang lain merasakan kehadiran-Mu. Amin.
