Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Selasa, 25 Agustus 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Hari Selasa Biasa XXI, Perayaan fakultatif Santo Louis Lodevik IX, Pengaku Iman, Santo Yosef Kalasansius, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Hijau
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: 2Tes 2:1-3a.13b-17
Berpeganglah pada ajaran-ajaran yang telah kalian terima dari kami.
Saudara-saudara,tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan berkumpulnya kita dengan Dia, kami minta kepadamu, jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh kabar atau surat yang dikatakan berasal dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Hendaknya kalian Jangan sampai disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga.
Allah dari mulanya telah memilih kalian untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kalian dan dalam kebenaran yang kalian percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kalian lewat Injil yang kami wartakan, sehingga kalian dapat memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita. Sebab itu berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kalian terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
Semoga Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, menghibur dan memperkuat hatimu dalam segala karya dan tutur kata yang baik, sebab Allah mengasihi kita, Ia memberi kita hiburan dan harapan baik karena kasih karunia-Nya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10.11-12a.12b-13,R:13ab
Ref:Tuhan akan datang menghakimi dunia dengan adil.
Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “Tuhan itu Raja! Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya; biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya,dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
Biarlah mereka bersukacita di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.
Bait Pengantar Injil:Ibr 4:12
Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati.
Bacaan Injil: Matius 23:23-26
Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan.
Pada waktu itu Yesus bersabda, “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kalian bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan,
yaitu keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan. Hai kalian pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kalian tepiskan dari minumanmu tetapi unta di dalamnya kalian telan.
Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kalian bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang-orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Selasa, 25 Agustus 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Ada satu hal yang sangat keras tetapi sekaligus sangat menyelamatkan dari Injil hari ini. Yesus tidak sedang berbicara kepada orang-orang yang sama sekali tidak mengenal agama. Justru Ia berbicara kepada orang-orang yang sangat memahami aturan agama, mengetahui hukum Taurat, rajin menjalankan kewajiban keagamaan, dan berusaha menjaga kesalehan di hadapan banyak orang.
Namun Yesus melihat sesuatu yang lebih dalam. Di balik ketaatan mereka terhadap aturan, ada sesuatu yang mulai kehilangan arah: keadilan, belas kasih, dan kesetiaan kepada Allah.
Karena itu Yesus berkata, “Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan.”
Sabda ini penting sekali bagi kehidupan kita. Sebab manusia sering kali lebih mudah memperhatikan sesuatu yang terlihat daripada sesuatu yang berada di dalam hati. Kita mudah merasa sudah menjadi orang baik karena melakukan kewajiban tertentu. Kita pergi ke gereja, berdoa, mengikuti kegiatan rohani, memberi sumbangan, membaca Kitab Suci, atau menjalankan berbagai bentuk kesalehan. Semua itu tentu baik dan penting. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa kehidupan iman tidak berhenti pada apa yang tampak dari luar.
Sebab seseorang bisa sangat rajin berdoa tetapi masih mudah merendahkan orang lain. Seseorang bisa aktif dalam kegiatan Gereja tetapi sulit mengampuni. Seseorang bisa berbicara tentang kasih Tuhan tetapi di rumah justru memperlakukan keluarganya dengan kasar. Seseorang bisa tampak sangat saleh di hadapan banyak orang, tetapi diam-diam menyimpan keserakahan, kebencian, iri hati, atau keinginan untuk menguasai orang lain.
Di sinilah perkataan Yesus menjadi seperti cermin.
“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu.”
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita tampilkan. Tuhan melihat bagian dalam diri kita yang mungkin tidak diketahui siapa pun.
Kita hidup dalam dunia yang sangat memperhatikan penampilan. Orang bisa mengatur bagaimana dirinya terlihat, bagaimana dirinya berbicara, bagaimana dirinya tampil di depan orang lain. Bahkan di zaman media sosial, seseorang dapat memilih hanya menunjukkan bagian kehidupan yang ingin dilihat orang. Tetapi kehidupan rohani tidak bisa dibangun hanya dengan pencitraan.
Di hadapan Tuhan, kita tidak dapat menyembunyikan isi hati.
Dan sebenarnya, teguran Yesus bukanlah teguran untuk menghancurkan kita. Justru sebaliknya. Yesus ingin menyelamatkan kita dari kehidupan yang hanya tampak baik di luar tetapi perlahan-lahan kosong di dalam.
Saudara-saudari terkasih,
Coba kita bertanya dengan jujur: bagaimana keadaan “bagian dalam cawan” kehidupan kita?
Apakah hati kita dipenuhi kasih atau justru banyak kepahitan? Apakah kita sungguh ingin berbuat baik, atau kita berbuat baik supaya dipuji? Apakah kita menolong karena kasih, atau supaya dianggap sebagai orang yang murah hati? Apakah kita meminta maaf karena sadar telah menyakiti, atau hanya supaya masalah cepat selesai?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin tidak nyaman. Tetapi justru pertanyaan yang tidak nyaman kadang menjadi jalan menuju pertobatan.
Yesus juga menyebut tiga hal yang sangat penting: keadilan, belas kasih, dan kesetiaan.
Keadilan berarti kita belajar memperlakukan orang lain dengan benar. Jangan mengambil hak orang lain hanya karena kita mempunyai kekuasaan. Jangan memanfaatkan kelemahan seseorang hanya karena kita memiliki kesempatan. Jangan menilai orang dengan ukuran yang berbeda hanya karena kita lebih dekat dengan satu orang daripada yang lain.
Belas kasih berarti kita tidak hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga berani bertanya, “Apa yang sedang dialami orang ini?” Belas kasih tidak berarti membenarkan kesalahan. Belas kasih berarti tetap mampu melihat manusia di balik kesalahannya.
Sedangkan kesetiaan berarti kita tetap berpegang pada kebaikan bahkan ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada keuntungan yang kita dapatkan.
Inilah yang sering kali paling sulit.
Berbuat baik ketika dipuji mungkin tidak terlalu berat. Tetapi tetap jujur ketika kita bisa mendapatkan keuntungan dengan berbohong, itulah kesetiaan. Mengampuni ketika orang lain meminta maaf mungkin lebih mudah. Tetapi menahan diri untuk tidak membalas ketika kita disakiti, itulah perjuangan kasih. Bersikap adil kepada orang yang kita sukai mungkin sederhana. Tetapi tetap adil kepada orang yang tidak kita sukai, di situlah kualitas iman kita diuji.
Bacaan pertama dari Surat Kedua kepada umat di Tesalonika memberikan penguatan yang sangat penting: “Berdirilah teguh.”
Nasihat ini diberikan kepada umat yang sedang menghadapi kebingungan dan kegelisahan. Mereka mendengar berbagai kabar yang membuat mereka tidak tenang. Karena itu Paulus mengingatkan mereka agar tidak mudah disesatkan dan tidak lekas bingung.
Bukankah ini juga sangat dekat dengan kehidupan kita?
Kita hidup di tengah begitu banyak suara. Ada berita yang benar dan berita yang belum tentu benar. Ada nasihat yang bijaksana dan ada pendapat yang hanya membuat orang semakin takut. Ada orang yang berbicara dengan keyakinan tinggi tetapi belum tentu mengatakan kebenaran. Ada pula informasi yang sengaja dibuat untuk membuat kita marah, cemas, atau membenci seseorang.
Karena itu iman membutuhkan keteguhan.
Orang beriman bukan orang yang percaya kepada semua hal. Orang beriman justru belajar membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Kita tidak boleh membiarkan hati kita dikendalikan oleh setiap kabar yang kita dengar.
Paulus berkata agar umat berpegang pada ajaran yang telah mereka terima. Bagi kita, ini berarti tetap menjadikan Kristus dan Injil sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Ketika dunia mengajarkan bahwa yang kuat boleh menginjak yang lemah, Injil mengajarkan keadilan.
Ketika dunia mengatakan bahwa orang yang menyakiti kita harus dibalas, Injil mengajarkan belas kasih.
Ketika dunia mengatakan bahwa kejujuran hanya berguna kalau menguntungkan, Injil mengajarkan kesetiaan.
Ketika dunia mengajak kita mengejar penampilan luar, Kristus mengajak kita membersihkan hati.
Maka menjadi murid Kristus bukan sekadar memiliki identitas sebagai orang Katolik. Menjadi murid Kristus berarti membiarkan Sabda-Nya mengubah cara kita berbicara, memperlakukan orang lain, menggunakan uang, mengambil keputusan, bekerja, hidup dalam keluarga, dan menghadapi orang yang berbeda dengan kita.
Yesus tidak mengatakan bahwa aturan agama tidak penting. Ia justru berkata, “Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan.” Artinya, kehidupan iman membutuhkan keseimbangan. Doa tetap penting. Sakramen tetap penting. Perayaan Ekaristi tetap penting. Ajaran Gereja tetap penting. Tetapi semuanya harus menghasilkan kehidupan yang semakin adil, penuh belas kasih, dan setia.
Kalau setelah berdoa kita tetap senang menyakiti orang lain, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Kalau setelah mengikuti Ekaristi hati kita tetap dipenuhi kebencian tanpa usaha untuk berdamai, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Kalau kita rajin melakukan kegiatan keagamaan tetapi tidak peduli terhadap penderitaan orang di sekitar kita, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Sebab ibadah yang benar tidak membuat kita semakin jauh dari manusia. Ibadah yang benar justru membuat hati kita semakin mampu mengasihi manusia.
Saudara-saudari terkasih,
Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Mungkin Tuhan hanya meminta kita membersihkan satu bagian kecil dari “cawan” kehidupan kita. Mungkin ada perkataan yang perlu kita hentikan. Ada kebiasaan buruk yang perlu kita tinggalkan. Ada seseorang yang perlu kita perlakukan dengan lebih adil. Ada kesalahan yang harus kita akui. Ada anggota keluarga yang perlu kita dengarkan tanpa menghakimi.
Pertobatan sering kali dimulai dari hal-hal sederhana seperti itu.
Jangan terlalu sibuk membersihkan bagian luar sampai lupa melihat bagian dalam. Jangan terlalu sibuk membuktikan kepada manusia bahwa kita baik sampai lupa bertanya apakah hati kita sungguh sedang dibentuk oleh Kristus.
Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna. Tuhan mencari hati yang mau dibersihkan dan diubah.
Maka marilah kita datang kepada Kristus dengan kerendahan hati. Biarkan Sabda-Nya menegur ketika kita salah, menguatkan ketika kita lemah, dan mengarahkan ketika kita kehilangan jalan.
Semoga iman kita bukan hanya terlihat dalam apa yang kita lakukan di hadapan altar, tetapi juga nyata dalam cara kita memperlakukan orang di rumah, di tempat kerja, di lingkungan, dalam pergaulan, dan dalam setiap keputusan yang kita ambil.
Sebab pada akhirnya, kesalehan yang sejati bukan hanya tentang seberapa banyak hal keagamaan yang kita lakukan, melainkan tentang seberapa jauh hati kita semakin menyerupai hati Kristus: mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, memberikan belas kasih, dan tetap setia kepada Allah.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, kepalsuan, keserakahan, dan kebencian. Ajarlah kami mengutamakan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan. Berilah keberanian mengakui kesalahan, memperbaiki sikap, mengampuni, berkata jujur, serta memperlakukan sesama dengan kasih. Teguhkan kami agar tetap berpegang pada Injil ketika menghadapi kebingungan dan godaan. Amin.








