Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Bali bikin aktivitas masyarakat terganggu. Sejak Minggu, 11 Oktober 2026, stok Pertalite dan Pertamax dilaporkan habis di beberapa SPBU, memicu antrean panjang kendaraan yang bikin arus lalu lintas ikut tersendat. Situasi ini pun menjadi perhatian publik, apalagi BBM merupakan kebutuhan penting untuk menunjang mobilitas warga hingga aktivitas pariwisata di Pulau Dewata.
Di tengah kondisi tersebut, Pertamina akhirnya membeberkan penyebab pasokan BBM sempat tersendat. Perusahaan menyebut lonjakan konsumsi Pertalite menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan BBM di lapangan. Meski tambahan pasokan sudah mulai didatangkan, masyarakat masih perlu memantau perkembangan distribusi karena antrean di sejumlah SPBU dilaporkan tetap terjadi.
Pertamina Ungkap Penyebab BBM Langka di Bali
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) menjelaskan bahwa rata-rata konsumsi Pertalite di Bali mencapai sekitar 2.200 kiloliter (KL) per hari. Tingginya kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengaturan pasokan dan penyaluran BBM ke berbagai wilayah.
Ketika konsumsi meningkat, distribusi harus disesuaikan agar kebutuhan setiap SPBU bisa terpenuhi. Karena itu, Pertamina melakukan pemantauan terhadap stok dan tingkat konsumsi di lapangan, sekaligus mengoptimalkan penyaluran setelah kapal pengangkut BBM tiba di terminal penyimpanan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan tambahan pasokan Pertalite dan Pertamax disiapkan untuk memperkuat ketersediaan BBM di Bali.
Menurutnya, distribusi terus dioptimalkan dengan mempertimbangkan kondisi stok serta tingkat konsumsi di setiap wilayah. Langkah tersebut diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mempercepat pemulihan pelayanan di SPBU yang mengalami kekurangan pasokan.
Kapal Pengangkut BBM Bawa Tambahan Puluhan Ribu Kiloliter
Untuk mempercepat pemulihan pasokan, Pertamina mendatangkan kapal pengangkut BBM yang membawa 18.000 KL Pertalite dan 2.500 KL Pertamax. Kedatangan kapal tersebut menjadi salah satu langkah untuk menambah stok dan memperlancar penyaluran BBM ke SPBU.
Secara keseluruhan, Pertamina juga menjadwalkan kedatangan kapal secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026. Kapal-kapal itu dijadwalkan bersandar di Terminal BBM Sanggaran dan Manggis dengan total muatan mencapai 26.200 KL.
Tambahan pasokan ini diharapkan bisa membantu menstabilkan ketersediaan BBM di berbagai daerah Bali. Namun, proses pemulihan tidak hanya bergantung pada jumlah BBM yang tiba, tetapi juga pada kelancaran distribusi dari terminal menuju SPBU serta tingginya kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Dengan konsumsi Pertalite yang mencapai sekitar 2.200 KL per hari, penyaluran perlu dilakukan secara terukur supaya pasokan tidak kembali tersendat. Karena itu, kedatangan kapal dan distribusi lanjutan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi antrean kendaraan.
Gubernur Bali Sebut Distribusi Sudah Dimulai
Gubernur Bali Wayan Koster sebelumnya menyampaikan bahwa distribusi BBM ke seluruh wilayah Bali mulai dilakukan pada Senin malam, 12 Oktober 2026. Ia mengatakan penyaluran tersebut menjadi langkah untuk mengatasi kelangkaan yang sempat terjadi di sejumlah daerah.
Pernyataan itu memberikan harapan bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan Pertalite dan Pertamax. Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan pemulihan pasokan belum tentu berlangsung serentak di semua SPBU.
Sejumlah unggahan media sosial pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026, masih memperlihatkan antrean kendaraan di beberapa lokasi. Salah satunya berada di SPBU Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, dengan antrean kendaraan yang dilaporkan mengular dari arah Bandara Renon menuju SPBU.
Antrean panjang juga dilaporkan terjadi di salah satu SPBU setelah Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Menurut unggahan akun Instagram @nusabali_com, antrean tersebut bahkan berdampak pada arus lalu lintas di jalur Tuban menuju bandara.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dimulainya distribusi belum otomatis membuat seluruh SPBU kembali normal pada waktu yang bersamaan. Ketersediaan BBM di setiap lokasi tetap bergantung pada jadwal pengiriman, jumlah stok yang diterima, dan kebutuhan konsumen setempat.
Antrean BBM Jadi Perhatian Masyarakat
Kelangkaan BBM bukan sekadar persoalan kendaraan yang harus mengantre lebih lama. Bagi masyarakat yang mengandalkan sepeda motor atau mobil untuk bekerja, bersekolah, berdagang, maupun menjalankan usaha, sulitnya mendapatkan bahan bakar bisa mengganggu kegiatan sehari-hari.
Dampaknya juga perlu diperhatikan di Bali yang memiliki aktivitas pariwisata cukup tinggi. Kelancaran mobilitas masyarakat, pekerja, pelaku usaha, dan wisatawan membutuhkan ketersediaan BBM yang memadai. Apabila antrean meluas hingga ke jalan raya, risiko kemacetan pun ikut meningkat, terutama di kawasan dengan arus kendaraan padat.
Meski begitu, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh wilayah Bali mengalami kelangkaan dengan tingkat yang sama. Laporan antrean berasal dari sejumlah lokasi tertentu, sehingga kondisi stok dan pelayanan perlu dilihat berdasarkan wilayah serta SPBU masing-masing.
Masyarakat juga sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa pasokan telah sepenuhnya normal hanya karena distribusi tambahan sudah dimulai. Informasi terbaru dari Pertamina dan kondisi langsung di SPBU tetap menjadi acuan penting untuk mengetahui perkembangan situasi.
Apa yang Perlu Dilakukan Pengendara?
Bagi pengendara yang hendak mengisi BBM, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan selama distribusi masih berlangsung. Pertama, pantau informasi resmi Pertamina atau pengelola SPBU setempat untuk mengetahui perkembangan pasokan.
Kedua, apabila memungkinkan, periksa kondisi SPBU tujuan sebelum berangkat agar tidak perlu berpindah-pindah lokasi dan terjebak antrean panjang. Ketiga, tetap tertib saat mengantre, jangan menyerobot jalur, dan hindari berhenti hingga menutup akses jalan umum.
Pengendara juga sebaiknya tidak melakukan pembelian secara berlebihan hanya karena khawatir kehabisan BBM. Pembelian sesuai kebutuhan membantu menjaga pelayanan tetap tertib dan mengurangi kepanikan di tengah masyarakat.
Apabila antrean menyebabkan kemacetan, ikuti arahan petugas di lapangan dan jangan memaksakan kendaraan masuk ke area SPBU yang sudah padat. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga keselamatan sekaligus kelancaran lalu lintas.
Kelangkaan Pertalite dan Pertamax di sejumlah wilayah Bali pada Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, ketersediaan stok, dan kelancaran distribusi sangat penting untuk menjaga pelayanan energi tetap stabil.
Pertamina menyebut tingginya konsumsi Pertalite, yang rata-rata mencapai sekitar 2.200 KL per hari, sebagai salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan pasokan. Tambahan BBM melalui kapal pengangkut serta jadwal kedatangan berikutnya diharapkan bisa membantu memulihkan ketersediaan di SPBU.
Walaupun Gubernur Bali menyatakan distribusi sudah dimulai, laporan antrean pada Selasa pagi menunjukkan bahwa kondisi di lapangan masih perlu dipantau. Masyarakat diharapkan tetap tenang, menggunakan BBM sesuai kebutuhan, dan mengikuti informasi resmi agar tidak terjebak kabar yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penanganan kelangkaan ini bukan hanya bertambahnya pasokan di terminal, tetapi juga kembalinya pelayanan SPBU secara lancar dan merata sehingga aktivitas masyarakat Bali bisa berjalan normal kembali.
