Ajang bersepeda jarak jauh Yogyakarta Cycling Challenge atau Audax Jogja 2026 yang seharusnya menjadi tantangan bagi para pesepeda justru menyisakan kabar duka. Seorang peserta perempuan bernama Astaria Murti meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di wilayah Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta.
Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Astaria diketahui mengikuti kategori 200 kilometer dalam gelaran yang diselenggarakan Audax Randonneurs Indonesia tersebut.
Kabar meninggalnya Astaria kemudian menyebar di kalangan komunitas pesepeda dan media sosial. Banyak yang menyampaikan belasungkawa setelah mengetahui perjalanan Astaria berakhir tragis saat mengikuti tantangan jarak jauh itu.
Perjalanan 200 Kilometer Berakhir Tragis
Audax Jogja 2026 memiliki beberapa pilihan jarak yang bisa diikuti peserta, mulai dari 50 kilometer, 100 kilometer, 200 kilometer hingga kategori ultra 1.200 kilometer.
Untuk peserta kategori 200 kilometer, perjalanan dimulai dari kawasan JNM Bloc, Yogyakarta, pada Sabtu pagi. Berbeda dengan perlombaan sepeda pada umumnya, Audax mengusung konsep unsupported ride.
Artinya, peserta harus mampu mengatur perjalanannya sendiri. Mulai dari kondisi fisik, kesiapan sepeda, navigasi, makanan dan minuman, sampai keputusan ketika menghadapi kondisi tertentu selama berada di rute.
Nah, tantangan inilah yang membuat perjalanan Audax bukan sekadar soal seberapa cepat peserta mengayuh sepeda. Kondisi medan dan kemampuan mengendalikan sepeda juga menjadi bagian penting, terlebih ketika peserta memasuki jalur dengan karakter jalan yang berbeda-beda.
Dalam perjalanan kategori 200 kilometer tersebut, Astaria kemudian melintasi kawasan Samigaluh, Kulon Progo.
Kecelakaan Terjadi di Jalan Menurun
Menurut informasi kepolisian yang diberitakan setelah kejadian, kecelakaan berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB di Jalan Samigaluh-Loano, tepatnya di Dusun Ngaglik, Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo.
Astaria saat itu disebut sedang melaju dari arah timur. Ketika memasuki ruas jalan menurun, sepeda yang dikendarainya diduga mengalami masalah pada sistem pengereman.
Kondisi tersebut membuat sepeda sulit dikendalikan. Sepeda kemudian menabrak tiang listrik di sekitar lokasi.
Benturan mengakibatkan Astaria mengalami luka serius. Ia kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju Puskesmas Samigaluh II untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, nyawa Astaria tidak berhasil diselamatkan. Pesepeda berusia 32 tahun tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Perlu digarisbawahi, dugaan mengenai gangguan pengereman atau rem blong tersebut merupakan keterangan awal yang disampaikan terkait kecelakaan. Penyebab teknis secara final tidak seharusnya dianggap sebagai kesimpulan sebelum pemeriksaan lebih lanjut dilakukan.
Kabar Duka Menyebar di Komunitas Pesepeda
Kabar meninggalnya Astaria kemudian ramai dibicarakan di komunitas pesepeda dan media sosial. Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan ucapan duka sekaligus mengenang sosok Astaria sebagai peserta Audax kategori 200 kilometer.
Salah satu unggahan dari orang yang mengaku mengenal Astaria bahkan menceritakan bahwa mereka sempat bertemu sekitar dua hari sebelum kegiatan berlangsung.
Dalam pertemuan tersebut, Astaria disebut sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi rute Audax Jogja. Mereka juga sempat membicarakan rencana untuk kembali bersepeda bersama setelah kegiatan selesai.
Namun, rencana tersebut akhirnya tidak pernah terwujud.
Pertemuan menjelang Audax itu menjadi salah satu momen terakhir sebelum Astaria mengalami kecelakaan di perjalanan.
Kisah tersebut membuat kabar duka ini terasa semakin menyayat bagi orang-orang yang mengenalnya maupun komunitas pesepeda yang mengikuti perkembangan kegiatan tersebut.
Siapa Astaria Murti?
Informasi mengenai kehidupan pribadi Astaria Murti sejauh ini masih cukup terbatas.
Data yang dapat dipastikan dari informasi terkait kecelakaan menyebut Astaria merupakan perempuan berusia 32 tahun yang berdomisili di Kabupaten Sleman. Ia tercatat sebagai peserta Audax Jogja kategori 200 kilometer.
Sementara itu, informasi lebih detail mengenai pekerjaan, pendidikan, komunitas sepeda, tanggal lahir lengkap, maupun kehidupan pribadinya belum disampaikan secara resmi oleh pihak keluarga atau penyelenggara.
Karena nama Astaria Murti dapat dimiliki lebih dari satu orang, berbagai informasi yang ditemukan di internet tidak bisa begitu saja dianggap sebagai profil korban tanpa adanya konfirmasi dari keluarga atau pihak yang berwenang.
Hal ini penting supaya kabar duka tidak berubah menjadi penyebaran informasi pribadi yang keliru.
Audax Bukan Ajang Balapan
Peristiwa yang menimpa Astaria juga menjadi pengingat bahwa kegiatan bersepeda jarak jauh memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh.
Audax sendiri bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling cepat. Konsepnya lebih menekankan perjalanan jarak jauh dengan aturan waktu tertentu dan kemampuan peserta untuk menyelesaikan rute secara mandiri.
Karena itu, kesiapan sepeda menjadi bagian yang sangat penting. Sistem pengereman, kondisi ban, drivetrain, pencahayaan, hingga perlengkapan keselamatan perlu diperiksa sebelum perjalanan panjang dimulai.
Begitu pula dengan kondisi tubuh dan pemahaman terhadap karakter rute. Jalur menurun, tikungan, permukaan jalan, lalu lintas kendaraan, serta kondisi cuaca bisa membuat tingkat risiko berubah dengan cepat.
Duka di Balik Tantangan Bersepeda
Kepergian Astaria Murti meninggalkan duka bagi keluarga, teman, dan orang-orang di komunitas pesepeda yang mengenalnya.
Perjalanan 200 kilometer yang awalnya menjadi tantangan olahraga dan pengalaman baru justru berakhir dengan kabar kehilangan yang tidak pernah diharapkan.
Bagi komunitas pesepeda, kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat mengejar jarak dan menyelesaikan rute tetap harus dibarengi dengan perhatian serius terhadap keselamatan.
Tidak ada target kilometer yang lebih penting daripada pulang dengan selamat.
Untuk saat ini, informasi mengenai kecelakaan Astaria sebaiknya merujuk pada keterangan resmi yang sudah disampaikan dan tidak mencampurkannya dengan spekulasi yang belum terbukti.
Semoga keluarga dan orang-orang terdekat Astaria diberikan kekuatan menghadapi kehilangan ini. Semoga kepergian Astaria juga menjadi pengingat bagi seluruh pesepeda untuk selalu mengutamakan keselamatan, memeriksa kondisi sepeda sebelum berangkat, serta tidak memaksakan diri ketika situasi perjalanan mulai terasa berisiko.








