Harga beras kembali jadi perhatian setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga sepanjang September 2026. Kenaikannya bukan cuma terasa di level penjualan ke konsumen, tetapi juga sudah terlihat mulai dari penggilingan sampai pasar grosir.
Buat masyarakat yang belanja kebutuhan pokok, angka ini tentu menarik dicermati. Pasalnya, beras merupakan salah satu komoditas utama yang cukup berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga sekaligus pergerakan inflasi pangan.
Dalam konferensi pers pada Kamis, 1 Oktober 2026, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan perkembangan harga beras terbaru di berbagai tingkatan perdagangan.
Harga Beras di Penggilingan Ikut Naik
BPS mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada September 2026 berada di angka Rp14.329 per kilogram. Angka ini naik dibandingkan Agustus 2026 yang masih berada di level Rp14.213 per kilogram.
Secara bulanan, harga beras di tingkat penggilingan naik 0,81 persen. Kalau dibandingkan dengan September tahun sebelumnya, kenaikannya mencapai 6,04 persen.
Kenaikan tersebut terjadi pada beberapa kelompok kualitas beras. Ateng menjelaskan:
“Kalau kita pilah menurut kualitas beras di penggilingan, beras premium naik secara month-to-month 0,81 persen dan secara year-on-year naik 10,52 persen. Untuk beras medium, secara month-to-month naik 0,87 persen dan secara year-on-year naik 4,72 persen,” jelas Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Artinya, kalau melihat pergerakan setahun terakhir, beras premium mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi dibandingkan beras medium di tingkat penggilingan.
Harga di Grosir Juga Bergerak Naik
Bukan cuma dari penggilingan, harga beras di tingkat grosir juga mengalami peningkatan.
Pada September 2026, rata-rata harga beras grosir tercatat Rp14.992 per kg, naik dari Rp14.901 per kg pada Agustus 2026.
Secara bulanan, BPS mencatat tingkat grosir mengalami inflasi sebesar 0,61 persen. Sementara jika dibandingkan dengan September 2025, inflasi beras grosir mencapai 4,93 persen.
Pergerakan harga di tingkat grosir ini penting diperhatikan karena berada di antara rantai distribusi dari pemasok menuju pasar sebelum akhirnya produk sampai ke konsumen.
Harga Beras Eceran Tembus Rp15.769 per Kg
Nah, bagian yang paling dekat dengan keseharian masyarakat ada di tingkat eceran.
BPS mencatat rata-rata harga beras eceran pada September 2026 mencapai Rp15.769 per kilogram. Angka tersebut naik dibandingkan Agustus 2026 yang berada di Rp15.644 per kilogram.
Dengan demikian, terjadi kenaikan sekitar Rp125 per kg secara rata-rata dalam satu bulan.
Dari sisi inflasi, harga beras eceran pada September 2026 naik 0,80 persen secara month-to-month (mtm). Sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy), kenaikannya mencapai 3,73 persen.
Ateng menjelaskan:
“Untuk di tingkat eceran terjadi inflasi sebesar 0,80 persen secara month-to-month dan secara year-on-year terjadi inflasi sebesar 3,73 persen,” ungkapnya.
Jadi, kalau kamu merasa harga beras belakangan ini makin mahal, data BPS memang menunjukkan adanya kenaikan rata-rata harga pada September 2026.
BPS Ingatkan Harga yang Dicatat Merupakan Rata-Rata Nasional
Meski begitu, angka Rp15.769 per kg tersebut jangan langsung dianggap sebagai harga yang pasti berlaku di setiap toko atau pasar.
BPS menggunakan angka rata-rata yang mencakup berbagai jenis kualitas beras dan wilayah di Indonesia. Karena itu, harga yang ditemukan masyarakat di lapangan bisa saja berbeda, tergantung kualitas beras, lokasi pasar, rantai distribusi, hingga kondisi pasokan di daerah masing-masing.
Ateng menegaskan:
“Sebagai informasi, harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan wilayah di Indonesia,” tambah Ateng.
Dengan kata lain, harga beras premium di satu daerah bisa berbeda dengan beras medium di daerah lainnya. Jadi, angka statistik nasional lebih tepat digunakan untuk melihat arah pergerakan harga secara umum, bukan sebagai patokan tunggal untuk semua pasar.
Kenapa Kenaikan Harga Beras Perlu Diperhatikan?
Beras punya posisi yang cukup penting dalam konsumsi masyarakat Indonesia. Karena itu, perubahan harganya bisa ikut memberikan pengaruh terhadap kondisi inflasi, khususnya kelompok makanan.
Kenaikan harga yang terjadi di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran juga menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak hanya muncul di ujung rantai penjualan. Ada perubahan yang tercatat sejak beras berada di tingkat penggilingan hingga akhirnya dipasarkan kepada konsumen.
Untuk masyarakat, perkembangan ini menjadi salah satu hal yang layak dipantau, terutama ketika harga kebutuhan pokok lainnya juga mengalami perubahan.
Pada akhirnya, data September 2026 menunjukkan satu hal yang cukup jelas: harga beras memang mengalami kenaikan di berbagai level perdagangan. Rata-rata harga penggilingan mencapai Rp14.329 per kg, harga grosir Rp14.992 per kg, sedangkan harga eceran berada di Rp15.769 per kg.
Namun, karena angka tersebut merupakan rata-rata nasional dari berbagai kualitas dan wilayah, harga yang benar-benar ditemui di pasar tetap bisa berbeda. Jadi, kalau sedang mengatur pengeluaran rumah tangga, perkembangan harga di pasar atau wilayah masing-masing tetap menjadi patokan yang paling relevan.








