Meski Tanpa Laporan Kasus Dinkes Ingatkan Super Flu Tetap Berpotensi Menyebar di Blitar

Dewi Amoris
Rate this post

Meski sampai sekarang belum ada laporan resmi soal kasus super flu di Kabupaten Blitar, Dinas Kesehatan (Dinkes) menegaskan kondisi ini bukan berarti wilayah Blitar benar-benar bebas dari penyebaran virus tersebut.

Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, menyampaikan bahwa pihaknya memang belum melakukan deteksi khusus super flu, karena sampai saat ini belum ada instruksi resmi baik dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) maupun Dinkes Provinsi Jawa Timur.

“Kalau ditanya bagaimana kami melakukan deteksi. Ini kami belum melakukan apa-apa (karena tidak ada instruksi),” ujar Christine pada Sabtu (17/1/2026).

Christine menegaskan, kondisi “belum ditemukan” ini tidak bisa langsung diartikan aman. Soalnya, tanpa deteksi, potensi penyebaran tetap ada.

“Jadi, benar bahwa belum tentu tidak ada penyebaran infeksi super flu di Blitar, karena memang kita tidak melakukan kegiatan pendeteksian,” katanya lagi.

Pemeriksaan Super Flu Nggak Bisa Sembarangan

Menurut Christine, pemeriksaan virus penyebab super flu—yang dikenal sebagai influenza A(H3N2) subclade K—nggak bisa dilakukan sembarang lab. Pemeriksaan hanya bisa dilakukan oleh laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) level III di tingkat provinsi atau level IV di Kemenkes.

Ia pun menyebut dua fasilitas utama yang dimaksud, yaitu Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Surabaya dan Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta.

“Kalau kami diminta melakukan deteksi, kami harus mengambil sampel spesimen dari pasien dengan gejala flu like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI/ISPA) mengirimkannya ke provinsi atau Kemenkes,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Dinkes Kabupaten Blitar sampai sekarang belum bisa memastikan apakah virus super flu sudah masuk ke wilayah mereka atau belum.

Jawa Timur Ada Kasus, Blitar Tidak Ikut Sampling

Christine juga membenarkan bahwa kasus super flu dengan jumlah cukup signifikan memang sempat ditemukan di wilayah Jawa Timur. Namun, temuan itu berasal dari survei awal Kemenkes yang melibatkan beberapa daerah tertentu.

“Tapi kami di Kabupaten Blitar tidak ikut mengirimkan sampel spesimen saat itu karena memang tidak diminta,” ujarnya.

Fokus ke PHBS, Bukan Deteksi Massal

Meski begitu, Dinkes Provinsi Jawa Timur sudah mengeluarkan surat edaran tertanggal 5 Januari 2026 terkait kewaspadaan penyebaran super flu. Tapi, menurut Christine, isinya lebih menekankan pada kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Karena itu, masyarakat Blitar diimbau buat tetap jaga kesehatan, mulai dari makan bergizi, rutin olahraga, sampai pakai masker saat berada di keramaian.

“Masyarakat juga disarankan untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut saat berada di keramaian,” katanya.

Surat edaran tersebut juga meminta fasilitas kesehatan untuk memantau kasus penyakit dengan gejala mirip flu, baik ILI maupun SARI (ISPA).

“Pengamatan pada pasien infeksi varian virus influenza A(H3N2) subclade K, tidak menunjukkan peningkatan keparahan pada pasien,” ujar Christine, merujuk pada isi surat edaran tersebut.

Christine menjelaskan, berdasarkan kajian epidemiologi WHO, super flu termasuk virus musiman. Gejalanya mirip flu pada umumnya, seperti demam tinggi, batuk pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, dan badan lemas.

Sebelumnya, Kemenkes mencatat kasus super flu pertama di Indonesia muncul pada Agustus 2025. Hingga Desember 2025, terdeteksi 62 kasus yang tersebar di beberapa provinsi, termasuk Jawa Timur dengan total 18 kasus.

Intinya, meski Blitar belum ada laporan resmi, masyarakat tetap diminta waspada, bukan panik, dan terus menerapkan pola hidup sehat biar tubuh tetap kuat 💪.

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *