Bacaan Injil Katolik Hari Ini Sabtu, 3 Oktober 2026 Lengkap Renungan Harian Injil, Hari Sabtu Biasa, Hari Sabtu Imam

Rate this post

Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.

Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.

Read More

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Sabtu, 3 Oktober 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Hari Sabtu Biasa XXVII, Hari Sabtu Imam, dengan warna liturgi Hijau.

Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3.5-6.12-17

Sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Maka aku mencabut perkataanku.

Ayub berkata kepada Tuhan, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Sabda-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah berceritera tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Maka Tuhan memberkati Ayub dalam kelanjutan hidupnya lebih daripada dalam hidup yang dahulu. Ayub mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.

Di seluruh negeri tidak terdapat wanita yang secantik anak-anak Ayub. Ayub mewariskan kepada mereka bagian milik pusaka seperti kepada anak-anaknya laki-laki. Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya. ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Maka Ayub meninggal dunia pada usia yang tua dan lanjut.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66.71.75.91.125.130

Ref: Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu.

Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik,sebab aku percaya pada perintah-perintah-Mu.

Memang baik bahwa aku tertindas,supaya aku belajar memahami ketetapan-ketetapan-Mu.

Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil;dan memang tepat bahwa Engkau telah menyiksa aku.

Menurut hukum-hukum-Mu sekarang semuanya itu ada,sebab segala sesuatu melayani Engkau.

Hamba-Mulah aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku paham akan peringatan-peringatan-Mu.

Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang,memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25

Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Bacaan Injil: Luk 10:17-24

Bersukacitalah karena nama-Mu terdaftar di surga.

Pada waktu itu ketujuh puluh dua murid Yesus kembali dari perutusannya dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.

Sesungguhnya Aku telah memberikan kalian kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tiada yang dapat membahayakan kalian. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.

Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tiada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya.”

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada para murid dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, tetapi tidak melihatnya dan ingin mendengar apa yang kalian dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Sabtu, 3 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Injil hari ini, para murid pulang dengan penuh sukacita karena mereka mengalami keberhasilan dalam perutusan. Mereka melihat kuasa Tuhan bekerja melalui pelayanan mereka. Namun Yesus mengingatkan sesuatu yang sangat penting: jangan sampai keberhasilan membuat hati lupa kepada sumber segala sesuatu. “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”

Sabda ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita pun mudah merasa berharga ketika pekerjaan berhasil, usaha berkembang, keluarga berjalan baik, pelayanan mendapat pujian, atau orang lain mengakui kemampuan kita. Kita senang ketika hasil kerja terlihat dan usaha kita dihargai. Tetapi Yesus mengajak kita melihat lebih dalam: apakah kebahagiaan kita bergantung pada keberhasilan, atau pada relasi kita dengan Allah?

Keberhasilan memang patut disyukuri. Tetapi keberhasilan bukan ukuran utama nilai diri manusia. Ada saat ketika kita sudah berusaha sungguh-sungguh, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Ada doa yang belum terjawab, pekerjaan yang gagal, hubungan yang mengecewakan, atau kebaikan yang tidak dihargai. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah merasa tidak berguna. Padahal di mata Tuhan, martabat kita tidak pernah ditentukan oleh pencapaian.

Bacaan pertama tentang Ayub memperlihatkan perubahan yang lebih dalam lagi. Ayub akhirnya berkata, “Sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ia bukan sekadar mendengar tentang Tuhan, tetapi mengalami kehadiran-Nya secara pribadi. Penderitaan tidak langsung memberikan semua jawaban, tetapi membawanya kepada pengenalan yang lebih dalam akan Allah.

Inilah iman yang matang. Kita tidak hanya mencari Tuhan ketika membutuhkan pertolongan, tetapi belajar mengenal-Nya bahkan ketika hidup belum memberikan penjelasan. Kita boleh menangis, kecewa, bertanya, bahkan merasa lemah. Namun jangan berhenti berjalan bersama Tuhan.

Yesus juga bersukacita karena Bapa menyatakan kerajaan-Nya kepada orang kecil. Artinya, hati yang sederhana, rendah hati, dan mau percaya sering kali lebih mampu mengenali karya Allah daripada hati yang merasa sudah mengetahui semuanya.

Maka marilah kita menjaga hati agar tidak terlalu bergantung pada pujian, keberhasilan, ataupun pengakuan manusia. Yang paling berharga bukanlah seberapa hebat kita terlihat, melainkan apakah hidup kita semakin dekat dengan Kristus dan menghadirkan kasih-Nya kepada sesama. Di situlah sukacita yang tidak mudah hilang menemukan tempatnya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah kami menemukan sukacita bukan hanya dalam keberhasilan, melainkan dalam kedekatan dengan-Mu. Ketika usaha kami berhasil, jagalah kami tetap rendah hati. Ketika gagal, kuatkan hati kami. Bukalah mata kami mengenali karya-Mu, agar kami tetap setia mengasihi, melayani, mengampuni, dan percaya kepada kehendak-Mu. Amin.

Related posts