Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Jumat, 25 September 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan Hari Biasa, dengan warna liturgi Hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: Pengkhotbah 3:1-11
Untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya.
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi;
ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 144:1a,2abc,3-4
Ref. Terpujilah Tuhan gunung batuku.
Terpujilah Tuhan, Gunung batuku! Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung.
Ya Tuhan, apakah manusia itu, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Manusia tak ubahnya seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang berlalu.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya.
Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Bacaan Injil: Lukas 9:18-22
Engkaulah Kristus dari Allah. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan.
Pada suatu ketika Yesus sedang berdoa seorang diri. Maka datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus lalu bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak siapakah Aku ini?” Mereka menjawab, “Yohanes Pembaptis; ada juga yang mengatakan: Elia; ada pula yang mengatakan: Salah seorang nabi dari zaman dulu telah bangkit.”
Yesus bertanya lagi, “Menurut kalian, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Engkaulah Kristus dari Allah.” Dengan keras Yesus melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapa pun.
Ia lalu berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh para tua-tua, oleh para imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Jumat, 25 September 2026
Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan hidup yang sedang kita jalani. Pengkhotbah mengingatkan bahwa segala sesuatu mempunyai waktunya. Ada waktu untuk menangis dan tertawa, membangun dan merombak, berbicara dan berdiam diri. Namun sering kali manusia ingin menentukan sendiri kapan sesuatu harus terjadi. Kita ingin semua berjalan sesuai rencana, sesuai keinginan, dan sesuai waktu yang kita tentukan.
Di sinilah kita belajar percaya kepada Tuhan. Pengkhotbah berkata bahwa Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya, tetapi manusia tidak mampu menyelami seluruh pekerjaan-Nya dari awal sampai akhir. Artinya, tidak semua hal harus langsung kita pahami. Ada pengalaman yang sekarang terasa berat, mengecewakan, bahkan seolah tidak memiliki jalan keluar. Namun Tuhan melihat keseluruhan perjalanan hidup yang tidak mampu kita lihat.
Dalam Injil, Yesus membawa pertanyaan itu menjadi semakin pribadi: “Menurut kalian, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkaulah Kristus dari Allah.” Pengakuan ini bukan sekadar jawaban tentang identitas Yesus. Ini adalah pertanyaan yang juga diarahkan kepada kita: siapakah Yesus bagi kita ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan?
Menariknya, setelah Petrus mengakui Yesus sebagai Kristus, Yesus langsung berbicara tentang penderitaan, penolakan, kematian, dan kebangkitan. Inilah bagian yang sering tidak mudah kita terima. Kita bisa mengakui Yesus sebagai Tuhan ketika keadaan baik, tetapi iman diuji ketika kita harus menghadapi kehilangan, kegagalan, penolakan, masalah keluarga, pekerjaan yang tidak pasti, atau doa yang belum mendapatkan jawaban.
Menjadi pengikut Kristus bukan berarti hidup bebas dari masalah. Iman justru mengajarkan bahwa dalam keadaan yang tidak kita mengerti sekalipun, Tuhan tetap hadir. Salib bukan tanda bahwa Allah meninggalkan manusia, melainkan jalan yang membawa menuju kebangkitan.
Maka, saudara-saudari, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa hidup kita sedang gagal hanya karena sesuatu belum berjalan sesuai harapan. Bisa jadi Tuhan sedang mengajarkan kita tentang kesabaran, keteguhan, pengampunan, atau kepercayaan. Tugas kita bukan menguasai seluruh jalan kehidupan, melainkan setia melangkah bersama Kristus.
Percayalah, apa yang belum kita mengerti sekarang tetap berada dalam tangan Tuhan. Dan ketika waktunya tiba, kita mungkin baru menyadari bahwa Tuhan tidak pernah terlambat. Ia sedang membentuk hidup kita melalui proses yang tidak selalu mudah, tetapi selalu memiliki tujuan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarlah kami percaya ketika hidup belum berjalan sesuai harapan. Berikan hati yang sabar menerima proses, keberanian menghadapi penderitaan, dan ketekunan melakukan kebaikan. Bantulah kami tidak menyerah ketika jalan terasa berat. Semoga kami tetap setia mengikuti-Mu, mengampuni sesama, dan menyerahkan masa depan kepada penyelenggaraan-Mu. Amin.
