Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Kamis, 17 September 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan St. Robertus Bellarminus, St. Hildegardis dr Bingen, dengan warna liturgi Hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11
Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kalian mengimani.
Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kalian akan Injil yang sudah kuwartakan kepadamu dan sudah kalian terima, dan yang di dalamnya kalian teguh berdiri. Oleh Injil itu kalian diselamatkan, asal kalian berpegang teguh padanya sebagaimana kuwartakan kepadamu; kecuali kalau kalian sia-sia saja menjadi percaya.
dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya sudah meninggal dunia.
Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
Tetapi berkat kasih karunia Allah, aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu entah aku, entah mereka, begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kalian mengimani.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2.16a-17.28
Ref: Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata, “Kekal abadi kasih setia-Nya!”
Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan,tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan!Aku tidak akan mati, tetapi hidup,dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan.
Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu,Allahku, aku hendak meninggikan Dikau.
Bait Pengantar Injil: Mat 11:28
Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat.Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Bacaan Injil: Lukas 7:36-50
Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih.
Pada suatu ketika seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi.
Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi.
Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, “Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini; semestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa.”
Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.”Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.” “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka hutang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?”
Jawab Simon, “Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu!” Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau melihat wanita ini?
Aku masuk ke dalam rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
Sebab itu Aku berkata kepadamu, ‘Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih!”
Lalu Yesus berkata kepada wanita itu: “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati, “Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu,
“Imanmu telah menyelamatkan dikau. pergilah dengan selamat!”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis, 17 September 2026
Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini membawa kita pada sebuah perjumpaan yang sangat manusiawi: seorang perempuan datang kepada Yesus dengan hati yang hancur, sementara Simon, seorang Farisi, melihat dirinya sebagai orang yang lebih baik. Di sinilah Yesus menyentuh persoalan yang sering muncul dalam kehidupan kita: bukan hanya tentang dosa, tetapi tentang bagaimana kita memandang orang lain dan bagaimana kita memandang diri sendiri di hadapan Allah.
Perempuan itu datang tanpa banyak kata. Ia membawa air mata, penyesalan, dan keberanian untuk mendekati Yesus. Ia tidak berusaha membenarkan masa lalunya. Ia hanya datang dengan hati yang terbuka. Sementara Simon sibuk menilai. Ia melihat perempuan itu berdasarkan masa lalunya, sedangkan Yesus melihatnya berdasarkan kemungkinan hidup barunya.
Bukankah kita juga sering seperti Simon? Kita mudah mengingat kesalahan seseorang, memberi cap, bahkan merasa diri lebih pantas di hadapan Tuhan. Kita melihat kegagalan orang lain dengan jelas, tetapi sering lupa bahwa kita pun membutuhkan pengampunan. Padahal di hadapan Allah, tidak seorang pun dapat berkata, “Saya tidak membutuhkan belas kasih.”
Yesus tidak mengatakan bahwa dosa itu tidak penting. Justru Ia menunjukkan bahwa dosa perlu dihadapi dengan pertobatan dan kasih karunia. Perempuan itu menerima pengampunan, lalu mendengar kata-kata yang mengubah hidupnya: “Imanmu telah menyelamatkan dikau. Pergilah dengan selamat.”
Inilah kabar baik bagi manusia yang merasa dirinya gagal. Masa lalu memang tidak dapat dihapus dari sejarah hidup, tetapi masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan. Kasih karunia Allah mampu membuka jalan baru ketika seseorang sungguh mau bertobat dan kembali kepada-Nya.
Bacaan pertama semakin meneguhkan bahwa iman kita berdiri pada Kristus yang wafat dan bangkit. Paulus sendiri pernah mengalami masa lalu yang kelam. Namun ia berkata bahwa karena kasih karunia Allah, ia menjadi manusia yang baru dan hidupnya tidak lagi sia-sia.
Maka, saudara-saudari, jangan menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan jujur. Dan jangan pula menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan untuk merasa lebih suci. Orang yang sungguh mengalami pengampunan akan belajar mengampuni.
Kiranya kita memiliki hati seperti perempuan dalam Injil: rendah hati mengakui kelemahan, berani bertobat, dan percaya bahwa kasih Tuhan masih mampu menata kembali kehidupan kita. Sebab ketika manusia hanya melihat masa lalu, Tuhan melihat harapan yang masih dapat bertumbuh.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah kami datang kepada-Mu dengan hati yang jujur, mengakui kesalahan dan menerima pengampunan-Mu. Jauhkan kami dari kebiasaan menghakimi sesama. Berilah keberanian untuk memperbaiki kesalahan, meminta maaf, mengampuni, dan menunjukkan kasih melalui tindakan nyata. Semoga iman kami menghasilkan perubahan hidup yang berkenan kepada-Mu dan membawa damai bagi sesama. Amin.
