Sabda Tuhan senantiasa menjadi terang yang menuntun langkah hidup orang beriman. Melalui Bacaan Injil dan renungan harian, kita diajak untuk semakin mengenal Kristus, memperteguh iman, serta menemukan kekuatan dalam menjalani setiap peristiwa kehidupan.
Merenungkan Sabda Allah bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubah hati dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian untuk Kamis, 10 September 2026. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini merupakan perayaan Santo Theodardus Martir, dengan warna liturgi hijau.
Marilah kita mempersiapkan hati dan membuka diri terhadap Sabda Tuhan. Semoga setiap ayat yang kita dengarkan dan setiap renungan yang kita baca menjadi benih yang bertumbuh serta menghasilkan buah dalam menjalani kehidupan kita.
Bacaan Pertama: 1Kor 8:1b-7.11-13
Bila engkau melukai hati mereka yang lemah, engkau berdosa terhadap Kristus.
Saudara-saudara,Pengetahuan menjadikan orang sombong, tetapi kasih itu membangun. Orang yang menyangka diri mempunyai pengetahuan sebenarnya belum mencapai pengetahuan yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah. Tentang makan daging persembahan berhala kita tahu bahwa tidak ada berhala di dunia ini, dan tidak ada Allah lain, selain Allah yang esa.
Sebab sungguhpun ada apa yang disebut allah, baik di surga maupun di bumi dan memang benar ada banyak allah dan banyak tuhan yang demikian, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, asal segala sesuatu. Bagi Dialah kita hidup. Dan bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus; segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan kita hidup karena Dia.
Tetapi tidak semua orang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang yang karena masih terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Karena hati nurani mereka lemah, maka hati nuraninya ternoda.
Dengan demikian “pengetahuan” menyebabkan kebinasaan saudaramu yang masih lemah. Padahal Kristus juga wafat untuk dia. Maka engkau berdosa terhadap saudara-saudaramu, karena engkau melukai suara hati mereka yang masih lemah. Dan dengan demikian engkau sebenarnya berdosa terhadap Kristus sendiri. Oleh karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, untuk selama-lamanya aku takkan mau makan daging lagi, jangan sampai aku menjadi batu sandungan bagi saudaraku.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3.13-14ab.23-24
Ref: Tuntunlah aku di jalan yang kekal.
Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri,Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,segala jalanku Kau maklumi.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku.Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku;ajaiblah apa yang Kaubuat.
Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Bait Pengantar Injil: 1Yoh 4:12
Jika kita saling menaruh cinta kasih, Allah tinggal dalam kita; dan cinta kasih Allah dalam kita menjadi sempurna.
Bacaan Injil: Lukas 6:27-38
Hendaknya kalian murah hati se bagaimana Bapamu murah hati adanya.
Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Dengarkanlah perkataan-Ku ini:
Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Bila orang menampar pipimu yang satu, berikanlah pipimu yang lain. Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kalian kehendaki orang perbuat kepada kalian, demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka. Kalau kalian mengasihi orang-orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu?
Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Lagi pula kalau kalian memberikan pinjaman kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyaknya.
Tetapi kalian, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan, maka ganjaranmu akan besar dan kalian akan menjadi anak Allah Yang Mahatinggi. Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang-orang jahat. Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya. Janganlah menghakimi orang, maka kalian pun tidak akan dihakimi.
Dan janganlah menghukum orang, maka kalian pun tidak akan dihukum. Ampunilah, maka kalian pun akan diampuni. Berilah, dan kalian akan diberi. Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah ke luar akan dicurahkan ke pangkuanmu. Sebab ukuran yang kalian pakai, akan diukurkan pula kepadamu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis, 10 September 2026
Saudara-saudari terkasih, ada satu kalimat Yesus yang mungkin paling sulit kita jalankan: “Kasihilah musuhmu.” Kita mudah mengasihi orang yang menghargai kita, membantu kita, dan memperlakukan kita dengan baik. Tetapi bagaimana dengan orang yang menyakiti hati, mengecewakan, merendahkan, atau bahkan sengaja berbuat tidak baik kepada kita? Di sinilah Yesus membawa kita kepada kedalaman iman yang sesungguhnya.
Yesus tidak sedang meminta kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang benar. Mengasihi musuh juga bukan berarti membiarkan diri terus disakiti. Kasih Kristiani berarti menolak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita boleh menjaga jarak dari orang yang melukai kita, boleh mengatakan bahwa suatu tindakan itu salah, dan boleh mencari keadilan. Namun hati kita tidak perlu dipenuhi kebencian dan keinginan untuk membalas.
Bacaan Pertama dari Surat Rasul Paulus memberi dasar yang sangat kuat: “Pengetahuan menjadikan orang sombong, tetapi kasih itu membangun.” Kita bisa mengetahui banyak hal, merasa paling benar, memahami kesalahan orang lain, bahkan memiliki alasan kuat untuk menghakimi. Tetapi pengetahuan tanpa kasih dapat berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, kasih membuat kita bertanya, “Apakah sikapku ini akan membangun atau justru menghancurkan orang lain?”
Saudara-saudari, bukankah dalam kehidupan kita sering terjadi hal-hal kecil yang perlahan menjadi luka besar? Satu perkataan yang kasar, kesalahpahaman, komentar di media sosial, perselisihan keluarga, atau pengalaman dikecewakan dapat terus kita simpan. Kita mungkin tidak membalas dengan kata-kata, tetapi hati kita terus mengulang kejadian itu. Akhirnya, orang yang menyakiti kita hidup dalam pikiran kita tanpa membayar apa pun, sementara kita sendiri kehilangan kedamaian.
Yesus mengajak kita melepaskan beban itu melalui pengampunan. Mengampuni bukan berarti melupakan begitu saja atau membenarkan kesalahan. Mengampuni berarti menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan dan memilih agar luka tidak mengubah hati kita menjadi keras.
Karena itu, marilah kita belajar bermurah hati seperti Bapa. Ketika disakiti, jangan buru-buru membalas. Ketika berbeda pendapat, jangan langsung merendahkan. Ketika seseorang jatuh dalam kesalahan, jangan merasa diri lebih suci. Kita pun hidup karena kemurahan Tuhan. Dan ukuran kasih yang kita berikan kepada sesama akan menunjukkan seberapa sungguh kita memahami kasih Kristus.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, lembutkan hati kami ketika terluka dan kecewa. Ajarlah kami mengampuni tanpa membenarkan kejahatan, menjaga batas tanpa kebencian, serta membalas keburukan dengan kebaikan. Berilah kami keberanian meminta maaf ketika bersalah dan kerendahan hati menerima sesama. Semoga melalui sikap kami, kasih dan kemurahan-Mu sungguh hadir di tengah kehidupan bersama.
