Hadapi Dampak Kemarau dan El Nino, BMKG Perkuat Cadangan Air di Kawasan Danau Toba

Rate this post

Kondisi ketersediaan air di kawasan Danau Toba lagi jadi perhatian serius. Memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, BMKG bersama sejumlah pihak turun langsung lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Misinya cukup krusial: memaksimalkan potensi hujan supaya pasokan air ke kawasan tangkapan Danau Toba tetap terjaga.

Operasi ini berlangsung selama 25 hari, mulai 21 September sampai 15 Oktober 2026. BMKG menggandeng Perum Jasa Tirta I (PJT I) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (PT Inalum) dalam pelaksanaannya.

Read More

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, OMC tersebut dilakukan untuk meningkatkan curah hujan sekaligus membantu menjaga stabilitas tinggi muka air Danau Toba. Danau ini punya peran penting, bukan cuma buat masyarakat sekitar, tetapi juga untuk kebutuhan sumber daya air dan sektor kelistrikan di Sumatra Utara.

“Karena itu, melalui OMC ini kita berupaya mengoptimalkan potensi awan yang tersedia untuk membantu meningkatkan curah hujan dan menambah masukan air ke DTA Danau Toba. Informasi mengenai kejadian hujan maupun wilayah yang mengalami kekeringan sangat penting sebagai bahan evaluasi dan penentuan prioritas operasi,” kata Budi dalam keterangan di situs resmi BMKG, dikutip Kamis (24/9/2026).

Hari Pertama Langsung Ada Hujan

Menariknya, operasi ini langsung menunjukkan hasil pada hari pertama. Petugas menjalankan satu sorti penerbangan menggunakan pesawat Cessna Grand Caravan dengan registrasi PK-SNM milik PT Smart Cakrawala Aviation (SCA).

Pesawat tersebut berangkat dari Posko OMC Bandara Silangit untuk menjalankan misi penyemaian awan di kawasan DTA Danau Toba.

“Operasi tersebut langsung membuahkan hasil di mana hujan dengan intensitas ringan hingga sedang turun merata di DTA Danau Toba dan mengangkat tinggi muka air danau sebesar 15 mm,” ucapnya.

Menurut Budi, pelaksanaan OMC kali ini dilakukan pada waktu yang cukup penting. Kawasan Danau Toba sedang menghadapi masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino ikut berdampak terhadap ketersediaan air.

“Pelaksanaan OMC kali ini berlangsung pada momentum krusial, yaitu masa transisi akhir musim kemarau menuju musim hujan. Musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino telah menurunkan ketersediaan air di sejumlah sumber air baku, termasuk di DTA Danau Toba,” tambah Budi.

Bukan Cuma Soal Danau Toba

OMC ini ternyata punya cakupan kepentingan yang lebih luas. Menurut BMKG, menjaga ketersediaan air di kawasan tersebut berkaitan dengan ketahanan air, pangan, hingga energi.

Budi mengatakan upaya tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program nasional, termasuk pemenuhan kebutuhan air untuk sektor industri aluminium yang berkaitan dengan agenda hilirisasi pemerintah.

“Dengan adanya dukungan dan sinergi dari PJT I, pemerintah daerah, BBWS, BPBD, Dinas Pertanian, dan seluruh pihak terkait, tentunya dapat memberikan hasil yang optimal dalam menjaga ketersediaan dan keandalan air baku di DTA Danau Toba dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Operasional PJT I Milfan Rantawi menekankan bahwa koordinasi antarpihak dan dukungan masyarakat juga menjadi bagian penting selama operasi berlangsung.

“Diharapkan OMC dapat berjalan sesuai rencana, sehingga peningkatan curah hujan benar-benar mendukung ketersediaan air untuk di daerah tangkapan air Danau Toba,” kata Milfan.

Dengan durasi operasi sampai 15 Oktober 2026, hasil OMC masih akan terus dipantau selama pelaksanaan berlangsung. Data mengenai hujan dan kondisi wilayah yang membutuhkan tambahan air bakal menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah operasi berikutnya.

Jadi, operasi 25 hari ini bukan sekadar soal bikin hujan turun. Ada misi yang lebih besar di baliknya, yakni menjaga pasokan air di kawasan Danau Toba tetap aman di tengah perubahan kondisi cuaca. Kolaborasi BMKG, PJT I, Inalum, pemerintah daerah, dan berbagai instansi terkait pun menjadi kunci supaya pengelolaan sumber daya air di kawasan strategis ini bisa berjalan lebih optimal.

Related posts